Kesombongan, Kekikiran, dan Ajak Berbuat Kikir
Banjir itu bukan cuma soal air. Lebih dari itu, ia adalah amarah yang menyibak tabir para penguasa. Wajah mereka, yang biasanya tersembunyi di balik pidato-pidato indah, tiba-tiba terbuka lebar: tampak dingin, angkuh, dan enggan menolong. Kesombongan semacam inilah yang konon telah "merenggut" nyawa delapan ratus lebih rakyat orang-orang yang cuma ingin hak hidupnya diakui.
Alen Y. Sinaro
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadiid ayat 23-24:
…وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ … (24)
“…Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir…”
Dulu, aku sering bingung. Kenapa sih kesombongan selalu digandengkan dengan sifat pelit? Pertanyaan itu mengendap bertahun-tahun, sampai akhirnya banjir besar datang. Saat itulah ayat tadi terasa seperti cambuk, menyambar dan membelah kesunyian.
Air menghanyutkan rumah, impian, segala yang dimiliki. Sementara itu, para pemimpin justru berdiri tegak di menara kekuasaan. Mereka bagaikan patung yang lupa asal-usulnya. Status bencana nasional pun ditolak, dengan alasan, “Kita kuat.”
Memang kuat. Kuat membiarkan rakyatnya terendam, kuat menunggu korban berjatuhan, bahkan kuat menolak bantuan dari luar negeri hanya demi menjaga gengsi yang sebenarnya sudah retak.
Alangkah "mulia"-nya mereka. Para penjaga martabat semu ini lebih takut dicap lemah daripada menyaksikan bangsanya sendiri terkapar meminta pertolongan di tengah hujan yang tak kunjung reda. Ini bukan sekadar kikir. Ini keangkuhan yang menusuk langsung ke jantung kemanusiaan kita.
Pemimpin yang membiarkan rakyatnya mati, padahal bantuan sudah mengetuk pintu, bukan cuma sombong. Dia adalah algojo. Algojo yang sengaja menunda eksekusi agar penderitaan lebih panjang. Ia membunuh lewat keengganan, lewat gengsi, lewat pintu-pintu yang dengan sengaja dikunci. Banyak nyawa yang hilang bukan karena derasnya arus, melainkan karena kelaparan yang lahir dari kesombongan yang telah membatu, bagai nisan di kuburan massal.
SHADAQAL LAAHUL ‘AZHIEM
Rilis BNPB
30 November 2025: korban tewas 116 orang 8 Desember 2025: korban tewas 964 orang
Artikel Terkait
Lebih dari 170 Ribu Anak di Sulsel Tidak Sekolah, Remaja Usia SMA Jadi Penyumbang Terbesar
Madura United Hajar Bali United 2-0, Jauh dari Zona Degradasi
Jalan Sidrap-Soppeng Semakin Rusak, Genangan Air Sembunyikan Lubang Berbahaya
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan