Namun begitu, Hanif punya penilaian lain. Ia melihat akar masalahnya mungkin lebih kompleks. Faktor alamiah, khususnya kondisi geografis daerah hulu, dinilainya memainkan peran yang jauh lebih besar. Topografinya terjal. Saat hujan ekstrem mengguyur, material dari atas kayu dan lumpur langsung meluncur deras ke bawah. Volume yang terbawa pun luar biasa banyak.
"Tetapi sebenarnya kontribusi terbesarnya lebih kepada hancurnya DAS bagian hulu. Karena dia terjal, ya, terjal, kemudian hujannya cukup berat, sehingga dia jatuh dan kemudian kayunya terbawa banyak sekali,"
Jelasnya.
Ia mengakui ada indikasi aktivitas manusia. Beberapa kayu yang hanyut terlihat bekas potongan chainsaw. Tapi jumlahnya tak signifikan. Fokusnya tetap pada besarnya dampak yang harus ditanggung warga.
"Saya memang melihat ada sedikit kayu yang ada potongan chainsaw-nya tetapi tidak terlalu banyak. Ini DAS Garoga yang membawa korban cukup besar karena hampir satu dusun tertimbun tanah dari longsoran di puncaknya,"
Pungkas Hanif, mengakhiri penjelasannya.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions