Mereka yang sehari-hari turun ke lapangan dinilai mampu merespons kondisi emosional warga yang terganggu pascabencana. Namun begitu, Wihaji menekankan bahwa semua itu harus menunggu. Prioritas mutlak saat ini masih di tahap paling dasar.
“Sekarang fokus kebutuhan primernya dulu. Kalau sudah primernya selesai, nanti sekunder. Trauma healing ini termasuk kebutuhan sekunder,” jelasnya.
Artinya, upaya pemulihan psikologis baru bisa jalan jika akses makanan, air bersih, dan bantuan dasar lainnya sudah benar-benar sampai ke tangan korban. Di sisi lain, Wihaji sudah menggerakkan seluruh jaringannya. Seluruh penyuluh dan TPK diperintahkan untuk bahu-membahu membantu warga terdampak.
“Yang berdampak langsung, tolong dibantu. Yang tidak kena dampak, tolong untuk berjibaku, bantu mereka semampunya,” serunya.
Situasinya memang tidak mudah. Ia mengungkapkan kabar yang cukup mencemaskan: beberapa penyuluh masih belum ditemukan. Mereka diduga berada di empat desa yang hilang diterjang bencana. Untuk itu, Kementeriannya terus berkoordinasi ketat dengan perwakilan di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Tujuannya, memantau perkembangan dan menggerakkan pendamping di wilayah-wilayah yang lebih aman untuk segera turun tangan.
Artikel Terkait
Analis Bongkar Kaitan MSCI dan Anjloknya IHSG: Jangan Jadi Serigala Berbulu Domba
Anak Muda dan Waktu yang Bocor: Saat Sibuk Hanya Jadi Topeng
BPOM Buru Iklan Gas Whip Pink yang Incar Gen Z untuk Efek Halusinasi
China Perketat Patroli di Scarborough Shoal, Tanggapi Latihan Militer AS-Filipina