Mereka yang sehari-hari turun ke lapangan dinilai mampu merespons kondisi emosional warga yang terganggu pascabencana. Namun begitu, Wihaji menekankan bahwa semua itu harus menunggu. Prioritas mutlak saat ini masih di tahap paling dasar.
“Sekarang fokus kebutuhan primernya dulu. Kalau sudah primernya selesai, nanti sekunder. Trauma healing ini termasuk kebutuhan sekunder,” jelasnya.
Artinya, upaya pemulihan psikologis baru bisa jalan jika akses makanan, air bersih, dan bantuan dasar lainnya sudah benar-benar sampai ke tangan korban. Di sisi lain, Wihaji sudah menggerakkan seluruh jaringannya. Seluruh penyuluh dan TPK diperintahkan untuk bahu-membahu membantu warga terdampak.
“Yang berdampak langsung, tolong dibantu. Yang tidak kena dampak, tolong untuk berjibaku, bantu mereka semampunya,” serunya.
Situasinya memang tidak mudah. Ia mengungkapkan kabar yang cukup mencemaskan: beberapa penyuluh masih belum ditemukan. Mereka diduga berada di empat desa yang hilang diterjang bencana. Untuk itu, Kementeriannya terus berkoordinasi ketat dengan perwakilan di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Tujuannya, memantau perkembangan dan menggerakkan pendamping di wilayah-wilayah yang lebih aman untuk segera turun tangan.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral