Rektor Asia Tenggara Berdebat: Bisakah Kampus Bertahan Saat AI Gantikan Proses Berpikir?

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 18:00 WIB
Rektor Asia Tenggara Berdebat: Bisakah Kampus Bertahan Saat AI Gantikan Proses Berpikir?

Suasana di ruang panel itu tegang. Di Jakarta, empat rektor universitas terkemuka Asia Tenggara berkumpul, dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang mengusik: bagaimana nasib pendidikan tinggi ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih proses berpikir manusia? Ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan NUS Innovation Forum edisi ketujuh yang pertama kali digelar di Indonesia, Desember 2025.

Hadir di sana Profesor Tan Eng Chye dari National University of Singapore (NUS). Bersamanya, tiga pilar akademik Indonesia: Profesor Hamdi Muluk dari Universitas Indonesia, Dr. Danang Sri Hadmoko dari Universitas Gadjah Mada, dan Profesor Lavi Rizki Zuhal dari Institut Teknologi Bandung. Pertemuan mereka lebih mirip rapat strategi menghadapi disrupsi, bukan perayaan kemajuan.

Profesor Tan membuka diskusi dengan sebuah perbandingan yang mencengangkan.

"Bayangkan," ujarnya. "Terobosan DeepMind dalam pemodelan protein berhasil memprediksi lebih dari 200 juta protein hanya dalam satu proses. Secara manual, pekerjaan itu membutuhkan lebih dari satu miliar tahun kerja para lulusan PhD."

Ruangannya hening sejenak. Itu bukan hiperbola, melainkan fakta mentah tentang kecepatan eksponensial AI. Di NUS sendiri, dalam dua tahun terakhir, 134 anggota fakultas baru direkrut. Yang menarik, 27 di antaranya spesialis AI, dan 53 peneliti lainnya mengintegrasikan AI ke jantung riset mereka.

Namun begitu, di balik efisiensi yang fantastis itu, ada bahaya yang lebih halus. Profesor Tan menyebutnya: cognitive offloading, never-skilling, mis-skilling, dan de-skilling.

"Belajar harus tetap menantang," serunya. "AI tidak bisa menggantikan proses berpikir."

Kekhawatiran serupa bergema di kampus-kampus Indonesia. Profesor Lavi Rizki Zuhal dari ITB bersikeras bahwa tren ini memaksa perubahan total desain kurikulum.

"Kita tidak bisa terus mengajar seperti cara kita dulu diajar," katanya.

Ia mengakui masih ada resistensi internal. Banyak dosen yang menolak, merasa kemampuan otaknya masih cukup. Tapi, kata Zuhal, penolakan itu percuma. Pendidik harus menguasai AI, karena faktanya mahasiswa sudah lebih dulu melakukannya.

Persoalannya ternyata lebih dalam. Dr. Danang Sri Hadmoko dari UGM mengangkat isu yang sering luput: biaya. Biaya komputasi cloud untuk riset AI bisa saja melampaui anggaran operasional tahunan sebuah fakultas. Hanya segelintir universitas di kawasan ini yang sanggup melakukan pemodelan AI skala besar secara mandiri.

"Kolaborasi multi-pihak bukan lagi pilihan, tetapi keharusan," tegas Hadmoko.

Ia mendorong pembangunan infrastruktur superkomputer bersama dan pusat inovasi yang didukung industri. Di UGM, pendekatannya lintas disiplin mengawinkan ilmuwan komputer dengan pakar psikologi, teknik, hingga ilmu sosial. Tujuannya jelas: memastikan AI tidak hanya canggih, tapi juga relevan dan punya pertimbangan sosial.

Lalu, di mana posisi manusia dalam pusaran ini? Profesor Hamdi Muluk dari UI membawa pembicaraan ke ranah yang lebih filosofis. AI, katanya, adalah cermin yang memantulkan kerentanan terdalam manusia.

Dia bercerita tentang kisah pilu anak muda yang mencari sandaran emosional dari sistem AI. Interaksi semacam itu kadang berakhir buruk ketika AI berhalusinasi atau memberi saran yang membahayakan.

"Kehidupan offline tetap penting, demikian pula interaksi langsung," pesan Muluk.

Investasi universitas, menurutnya, harus diarahkan untuk membangun ketahanan manusia lewat komunitas kampus, dukungan sebaya, dan program kesehatan mental.

"Kita harus membekali mahasiswa dengan kebijaksanaan," ujar Muluk. "Dan kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa diberikan AI."

Di sisi lain, dalam panel paralel, para praktisi bisnis bicara lebih blak-blakan. Dalam sesi "Ask Me Anything" mereka, Adi Reza Nugroho (MYCL), David Setiawan Suwarto (Sinemart & MOJI), dan Pang Xue Kai (ForU AI) berbagi pengalaman. Intinya, manfaatkan AI untuk mempercepat kreativitas manusia, bukan menggantikannya.

Jaringan BLOCK71 dari NUS Enterprise, yang kini menjangkau 11 kota termasuk Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, jadi bukti nyata. Konektivitas antara founder, mentor, dan investor bisa menjadi tulang punggung inovasi di masa penuh ketidakpastian ini.

Forum itu akhirnya ditutup dengan sebuah refleksi. Asia Tenggara, dengan segala kompleksitasnya, tidak mau jadi penonton pasif dalam disrupsi AI. Melalui kolaborasi otentik seperti yang dijalin NUS dengan UI, UGM, dan ITB kawasan ini berusaha keras untuk tak sekadar adaptasi, tapi aktif membentuk masa depan pendidikannya sendiri.

Pertanyaan terakhir kini menggantung. Bisakah para pendidik, peneliti, dan mahasiswa membangun benteng kebijaksanaan manusia di tengah serbuan algoritma yang tak kenal lelah? Jawabannya tak akan ditemukan dalam model AI mana pun. Jawabannya hanya ada di dalam proses berpikir, berdebat, dan berkolaborasi proses yang, seperti diingatkan Profesor Tan, harus tetap menantang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar