Banjir Sumatra: Saat Air Bah Menguji Iman dan Nurani Manusia

- Jumat, 05 Desember 2025 | 17:00 WIB
Banjir Sumatra: Saat Air Bah Menguji Iman dan Nurani Manusia

Agama bukan cuma soal teguran. Ia juga tempat kita bersandar, saat segalanya terasa runtuh.

Banjir Besar yang Mengguncang Sumatra

Hujan deras mengguyur tanpa ampun sejak akhir November. Awalnya, orang-orang menganggapnya sebagai hal biasa, ritme alam di penghujung tahun. Tapi siapa sangka? Hanya dalam beberapa hari, air meluap jauh melampaui batas. Sungai-sungai tak lagi sanggup menahan, tanggul pun ambrol. Lalu, datanglah banjir besar itu menyapu Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Rumah-rumah, kebun, jalan raya, semuanya terendam. Harapan pun ikut terkikis.

Di media sosial, beredar foto-foto pilu: warga dievakuasi dengan perahu karet dan rakit darurat. Sementara itu, para relawan nekat menyusuri genangan yang lebih mirip danau, memanggul karung beras dan sembako. Situasinya benar-benar kacau.

Di balik kecemasan akan kehilangan harta benda, muncul kegelisahan lain yang lebih dalam. Di mana posisi kita sebenarnya di hadapan amukan alam seperti ini? Ada apa di balik bencana besar yang melanda Sumatra kali ini?

Air Bah dalam Kitab Suci: Cerita yang Tak Pernah Usang

Sejak dulu, banjir selalu punya makna lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah simbol, pertanda, sekaligus panggilan untuk introspeksi. Hampir semua agama dan tradisi punya kisahnya sendiri tentang air bah.

Dalam Al-Qur’an, misalnya, kisah Nabi Nuh bukan cuma cerita penyelamatan. Ia adalah gambaran nyata tentang keras kepalanya manusia. Surah Hud ayat 44 menggambarkan saat air diperintah surut dan bahtera berlabuh di Bukit Judi. Momen itu bukan akhir biasa, melainkan titik balik: kehancuran bagi kaum yang zalim, dan awal baru bagi umat manusia.

Bahkan lebih pedih lagi, Surah Al-Ankabut ayat 14 menyebut Nuh berdakwah hampir seribu tahun, tapi yang percaya hanya segelintir. Lalu ada Surah Ar-Rum ayat 41 yang terasa sangat relevan sekarang: kerusakan di darat dan laut itu ulah tangan manusia sendiri. Miris, ya?

Narasi serupa juga hidup dalam Alkitab, Epos Gilgamesh, hingga tradisi Hindu lewat Matsya Purana. Intinya, kisah banjir besar ini adalah cerita universal melintasi batas agama dan budaya.

Memaknai Bencana di Zaman Sekarang

Tapi bencana banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar tahun ini terjadi di era yang berbeda. Kita tak bisa lagi serta-merta menyimpulkan ini sebagai azab atau hukuman ilahi. Penafsiran seperti itu terlalu dangkal, bahkan berisiko. Kenapa? Karena kita jadi lupa pada faktor-faktor nyata penyebab bencana: penebangan hutan sembarangan, alih fungsi lahan yang tak terkendali, pembangunan serampangan, plus dampak perubahan iklim yang makin jadi.

Beberapa pemikir agama menawarkan sudut pandang yang lebih dewasa. Menurut mereka, bencana lebih tepat dilihat sebagai ujian atau peringatan. Ia adalah panggilan untuk memperbaiki diri dan merawat lingkungan, bukan dalih untuk saling menyalahkan.

Agama dan Etika Merawat Lingkungan

Islam, contohnya, punya konsep maqâṣid al-syarî‘ah. Dalam kerangka ini, menjaga nyawa, harta, dan lingkungan hidup adalah tujuan utama syariat. Jadi, saat bencana datang, respons kita bukan cuma pasrah. Justru itu saatnya kita bergerak aktif menjalankan perintah moral untuk menjaga bumi.

Pasca tsunami 2004, para ulama di Aceh sudah mengingatkan hal ini. Mereka bilang, alam itu cermin. Kalau kita merusaknya, ya dampaknya akan kembali ke kita. Dua puluh tahun kemudian, banjir besar di Sumatra seolah mengingatkan kita lagi: peringatan dulu sering diabaikan, sekarang alam yang ‘bicara’.

Solidaritas yang Tumbuh di Tengah Genangan

Meski begitu, peran agama dalam bencana bukan cuma memberi teguran. Ia juga jadi penopang emosional yang kuat saat manusia terpuruk. Banyak penelitian pasca-bencana Aceh membuktikan, keyakinan religius membantu penyintas melewati trauma. Doa, kebersamaan, dan rasa saling membantu ternyata mempercepat pemulihan batin.

Fenomena serupa terulang dalam banjir kali ini. Bantuan mengalir bukan cuma dari pemerintah, tapi juga dari pesantren, gereja, lembaga zakat, dan komunitas lintas iman. Sedekah dari warga biasa sering kali lebih tulus dan tepat sasaran.

Lihat saja di lapangan. Di mushala yang terendam, anak-anak tetap belajar mengaji di lantai yang lebih tinggi. Gereja yang selamat dari banjir, dengan sigap berubah jadi posko darurat. Inilah wajah religiusitas Indonesia yang sering tak terlihat: ia hidup dalam empati dan aksi nyata, bukan cuma doktrin.

Apa yang Bisa Kita Petik dari Bencana Ini?

Dari semua yang terjadi, banjir Sumatra ini harus jadi momentum untuk berubah. Kisah Air Bah dari masa lalu tak bisa lagi dibaca mentah-mentah. Ia harus jadi inspirasi moral: kalau kita abai pada ketidakadilan ekologis, alam akan merespons.

Dalam situasi seperti ini, agama bisa berperan tiga sekaligus. Pertama, memberi makna pada penderitaan bahwa di balik ujian ada kesempatan untuk jadi lebih baik. Kedua, menggerakkan solidaritas karena menolong sesama itu kewajiban semua orang, apa pun agamanya. Ketiga, membangun kesadaran ekologis bahwa merawat hutan dan sungai adalah bagian dari ibadah.

Kalau ketiga fungsi itu berjalan, banjir tak cuma tinggalkan luka. Ia juga akan tinggalkan pelajaran berharga. Air mungkin menggenangi rumah dan sawah, tapi ia takkan bisa menenggelamkan kesadaran manusia yang mau belajar dari kitab suci, dari sejarah, maupun dari penderitaan yang mereka alami sendiri.

Ketika air naik, nurani harus ikut menyala. Di situlah masa depan Sumatra dan kita semua benar-benar ditentukan.

Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar