JAKARTA – Suara kritis muncul dari kalangan muda Nahdlatul Ulama. Dalam sebuah pertemuan di Jakarta, Kamis-Jumat lalu, Jaringan Kader Muda NU se-Indonesia menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka menilai ada yang mulai melenceng di tubuh pengurus pusat. Intinya, mereka mendesak PBNU untuk kembali patuh pada aturan main organisasi, AD/ART, dan menghormati upaya perdamaian yang digagas para kiai sepuh.
Menurut para peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air, praktik keputusan sepihak di internal PBNU belakangan ini makin menguat. Padahal, musyawarah dan tabayyun selama ini adalah nyawa NU. Situasi ini, bagi mereka, jelas mengkhawatirkan.
“Kalau benar ada rencana pleno untuk menunjuk Penjabat Ketua Umum, ya itu namanya kesewenang-wenangan,” tegas Purwaji, Juru Bicara Jaringan Kader Muda NU, Jumat (5/12/2025).
Dia melanjutkan dengan nada getir. Para kiai justru sedang mengupayakan islah, jalan damai. Tapi rencana pleno itu terasa seperti pemaksaan. “Sangat menyedihkan jika suara para kiai dianggap bisa diabaikan begitu saja,” ujarnya.
Di sisi lain, ruang dialog dianggap semakin sempit. Ada kecenderungan kewenangan struktural dipakai untuk membatasi komunikasi, sementara seruan para masyayikh kerap tak digubris. Hal ini dinilai bukan cuma mengancam marwah organisasi, tapi juga menjauhkan NU dari jati dirinya sebagai jam’iyah yang berlandaskan syura dan tuntunan ulama.
Purwaji mengingatkan, AD/ART itu bukan sekadar dokumen formal. Itu pagar yang menjaga kehormatan organisasi. Tanpa ketaatan padanya, setiap keputusan bisa kehilangan legitimasi moral di mata warga NU.
Artikel Terkait
Polisi Berlutut di Jalan, Redam Konflik Massa di Manggarai
Bayern Krisis Kiper, Remaja 16 Tahun Bersiap Jaga Gawang Lawan Atalanta
Keluarga Pemudik Terdampar di Bahu Tol Semarang-Solo Usai Salah Naik Bus
Pemerintah Gelar Sidang Isbat Awal Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026