Pertemuan lima jam di Moskow antara Vladimir Putin dan utusan khusus AS, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, ternyata tak membuahkan hasil. Kremlin dengan tegas menyatakan pembicaraan soal penghentian perang di Ukraina itu buntu. Padahal, kedua utusan itu datang dengan satu agenda utama: mencari jalan keluar dari konflik.
Namun begitu, tak lama setelah pertemuan itu, sikap Putin justru terlihat semakin keras. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi India Today pada Kamis lalu, Presiden Rusia itu tak ragu lagi menyampaikan ancamannya. Targetnya jelas: seluruh wilayah Donbas di timur Ukraina.
“Intinya adalah ini: kita akan membebaskan wilayah-wilayah ini dengan paksa, atau pasukan Ukraina akan meninggalkan wilayah-wilayah ini dan berhenti bertempur di sana,”
Begitu kata Putin, seperti dilaporkan Al Jazeera. Pernyataan itu secara gamblang mengonfirmasi rencananya untuk merebut kawasan itu, dengan cara apapun.
Di sisi lain, Witkoff dan Kushner kini sudah berada di Florida, AS. Mereka dikabarkan sedang melanjutkan pembicaraan dengan negosiator Ukraina, Rustem Umerov. Apa yang dibahas? Mungkin upaya terakhir sebelum situasi makin runyam.
Konflik ini memang bukan hal baru. Rusia sudah mengerahkan pasukannya ke Ukraina sejak 2022. Dunia Barat menyebutnya invasi, sementara Moskow bersikukuh itu hanya operasi militer khusus. Tapi akar persoalannya lebih dalam lagi.
Jauh sebelum serangan besar-besaran dua tahun lalu, tepatnya selama delapan tahun, Rusia diketahui mendukung pemberontakan di Donbas. Wilayah yang mencakup dua kota besar Donetsk dan Luhansk itu seperti bara dalam sekam. Dan kini, Putin tampaknya ingin memadamkannya dengan caranya sendiri: lewat kekuatan penuh.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali