Bocah SD Sulap 9 Ton Cangkang Telur Jadi Suplemen Ramah Lambung

- Jumat, 05 Desember 2025 | 08:36 WIB
Bocah SD Sulap 9 Ton Cangkang Telur Jadi Suplemen Ramah Lambung

Di usianya yang masih belia, Sanggrama Rasio Al Warisyi atau yang akrab disapa Rasio sudah punya kepedulian yang jarang ditemui. Ia masih duduk di kelas 6 SD, tapi pikirannya melayang jauh, memikirkan nasib cangkang-cangkang telur yang berserakan di sekitar rumahnya. Daripada dibiarkan jadi sampah, ia punya ide brilian: mengolahnya jadi sesuatu yang berguna.

Hasilnya? Bubuk kalsium karbonat. Ya, dari limbah yang sering diabaikan itu, Rasio berhasil membuat suplemen yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang, otot, hingga jantung. Sebuah terobosan yang sederhana, namun dampaknya luar biasa.

Menurut pengakuannya, aksi ini sudah dimulai sejak tahun lalu. Tapi sepanjang 2025 ini saja, ia sudah mengolah tidak kurang dari 5,5 ton cangkang telur.

"Kalau dihitung sejak 2024, totalnya sudah sekitar 9 ton limbah yang berhasil saya olah," ujar Rasio kepada Basra, Jumat lalu.

Bocah yang juga finalis Pangeran Lingkungan Hidup 2025 itu bercerita, ide ini muncul begitu saja. Ia sering melihat tumpukan cangkang telur di lingkungannya dan merasa sayang jika hanya berakhir di tempat sampah. Dari situlah ia mulai meneliti dan bereksperimen.

Bubuk kalsium hasil olahannya ternyata punya banyak kegunaan. Rasio mencampurkannya ke dalam kopi, dan hasilnya cukup mengejutkan. "Bisa mengurangi keasaman kopi," terangnya. "PH-nya naik. Saya rekomendasikan campuran 20% saja, biar rasa kopinya masih terasa tapi asamnya berkurang dan lebih nyaman di lambung."

Tak cuma kopi, ia juga membuat puding dari bubuk ajaibnya itu. "Pudingnya juga aman di lambung," imbuhnya sambil tersenyum.

Yang penting, produk ini sudah melalui uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan aman dari bakteri, termasuk Salmonella yang kerap dikhawatirkan ada pada cangkang telur. Proses sterilisasi yang ketat jadi kuncinya.

Kini, ambisinya bertambah. Rasio berkeinginan untuk membantu posyandu dengan membagikan puding bergizi olahannya itu. Ia ingin kontribusinya benar-benar menyentuh masyarakat.

Di sisi lain, perjalanannya tak selalu mulus. Rasio juga berusaha menyosialisasikan idenya pada teman-teman sebayanya. Tapi ia mengaku, hal itu cukup berat. Antusiasme teman-temannya dinilainya masih minim.

"Mereka lebih suka main HP daripada diajak mengolah limbah cangkang telur," keluh Rasio, penerima dua penghargaan internasional itu.

Namun begitu, keluhan itu sama sekali tak mengurungkan niatnya. Rasio tetap bersemangat. Baginya, setiap cangkang telur yang diselamatkan adalah sebuah kemenangan kecil bagi lingkungan dan kesehatannya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler