Benarkah Keadaan Sudah Membaik?
Anda pasti sudah mendengar kabarnya. Meski, anehnya, berita soal bencana ini seperti berusaha dihapus dari mana-mana. Semakin hari, semakin jelas: pemerintah tak becus mengkoordinasi timnya sendiri.
Lihat saja para menteri. Mereka malah sibuk berlomba memanfaatkan kesengsaraan ini untuk pencitraan. Juaranya, menurut saya, si Zulhas. Dia dengan gagah memanggul karung beras, menyekop lumpur. Hasilnya memang bagus untuk foto dan video. Tapi sungguh menjijikkan, mengingat masih banyak sekali korban yang kelaparan dan butuh pertolongan nyata.
Bahkan para pejabat yang 'turun tangan' itu. Semua tampak necis. Wajah-wajah bersih bak penghuni surga yang mampir sebentar ke neraka bencana. Hanya untuk membuat kontras yang menyakitkan: betapa malangnya rakyat yang menderita, sementara mereka yang menyebabkan kerusakan itu berpose bak pahlawan.
Mereka kan penikmat hasil sawit, tambang, dan pembabatan hutan? Lucunya, setetes bantuan yang mereka bagikan seolah jadi segalanya. Padahal, uang itu bukan uang pribadi mereka! Itu uang rakyat termasuk uang korban bencana itu sendiri!
Jelas sudah, pemerintah gagal total menangani bencana besar ini. Menetapkannya sebagai bencana nasional saja enggan. Menteri Sosial dengan bangga menyebut angka 25 miliar untuk penanggulangan. Seolah itu uang sakunya sendiri. Dan 25 miliar? Itu jumlah yang tak ada artinya untuk skala bencana sebesar ini.
Di sisi lain, lihat yang dilakukan influencer Fery Irwandi. Dia menggalang dukungan, dan dalam waktu singkat terkumpul 10 miliar. Bahkan dia sanggup menyewa pesawat untuk mengirim bantuan langsung.
Pemerintah? Sibuk upacara. Relawan di lapangan malah disibukkan melayani tamu-tamu penting dari Jakarta. Rakyat yang lelah dipaksa berkumpul untuk penyambutan. Dan tangisan mereka semakin keras, semakin bagus untuk tayangan TV dan media buzzer.
Ini mengingatkan saya pada ucapan Ronald Reagan, presiden AS yang dulu aktor itu. Katanya, "Pemerintah bukan solusi atas masalah. Pemerintah justru sumber masalahnya." Orang memilih mereka dengan harapan hidup jadi lebih baik. Nyatanya? Mereka lebih sering menyusahkan.
Lagi-lagi, yang bergerak adalah warga bantu warga. Ambil contoh di Republik Rakyat Bantul. Sebuah warung makan memasang pengumuman: mahasiswa asal Aceh, Sumut, Sumbar yang terdampak bencana, cukup tunjukkan KTP, boleh makan gratis. Itulah solidaritas yang sesungguhnya, sederhana namun luar biasa.
Mirip seperti saat pandemi dulu. Saat negara muncul dengan tentara dan polisi memaksa rakyat, justru gerakan "rakyat bantu rakyat" yang tumbuh. Mereka yang mengantarkan makanan, mengurus kebutuhan, membantu isolasi mandiri.
Negara dan pejabatnya? Kini kita tahu, ratusan triliun dana Covid hilang tak bisa dipertanggungjawabkan. Uang rakyat itu akhirnya berubah jadi dana politik untuk melanggengkan kekuasaan.
Pola ini terus berulang. Kita selalu tahu terlambat. Dan maaf, berdasarkan pengalaman, lembaga penanggulangan bencana pun tak kebal korupsi. Kita juga tahu siapa yang kini memimpin Basarnas dan BNPB.
Lalu ada orang seperti Nanik Deyang. Dia dengan cepat memuji-muji militer yang turun, dan berharap mahasiswa yang demo ikut terjun juga.
Nanik, yang karirnya melesat lebih cepat dari roket karena tiba-tiba mengurus dana triliunan per hari (MBG), tentu akan berkata apa saja untuk membela rezim junjungannya. Persis seperti dulu saat dia bilang Ratna Sarumpaet dipukuli karena politik, padahal si Ratna cuma habis oplas. Jadi, abaikan saja omongan Nanik yang wajahnya susah dibedakan lagi nangis atau lagi ngeden itu.
Fungsi negara yang paling dasar adalah menolong mereka yang tak berdaya. Kaum anarkis paling anti-negara pun mungkin setuju pada titik ini. Kalau fungsi sederhana itu saja tak bisa dijalankan, apa salahnya kita bilang negara ini gagal? Bahwa sistem ini sedang membusuk?
(Made Supriatma)
Artikel Terkait
Bareskrim dan FBI Buru 2.400 Pembeli Alat Phishing Buatan Pasangan NTT, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Empat Pelajar SMK di Lampung Barat Temukan Celah Keamanan Sistem Digital NASA, Diakui sebagai White Hacker Dunia
Trabzonspor Lolos ke Babak Berikutnya Piala Turki Usai Kalahkan Samsunspor Lewat Adu Penalti
Pabrik Minyakita di Sidoarho Curangi Takaran, Isi Jeriken 5 Liter Hanya 4,3 Liter