UGM Siapkan Keringanan UKT untuk Mahasiswa Korban Bencana

- Kamis, 04 Desember 2025 | 17:12 WIB
UGM Siapkan Keringanan UKT untuk Mahasiswa Korban Bencana

Bagi mahasiswa UGM asal Aceh, Sumut, dan Sumbar yang keluarganya terdampak banjir dan longsor, ada kabar baik. Universitas Gadjah Mada membuka peluang pemberian keringanan UKT. Langkah ini diambil agar studi mereka tak terganggu, apalagi ujian akhir semester tinggal hitungan hari.

“Kemungkinan untuk itu ada,” ujar Sekretaris UGM, Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, Kamis lalu. Menurutnya, yang paling penting sekarang adalah aksi cepat. “Mahasiswa-mahasiswa kita harus tetap bisa menjalankan studinya. Minggu depan sudah masuk masa UAS.”

Ia mengakui, saat ini kampus masih mendata jumlah mahasiswa yang terdampak. Data dari berbagai fakultas mulai berdatangan.

“Ini yang sekarang kita kumpulkan,” beber Andi Sandi. “Nanti kita lihat tindakan mitigasinya seperti apa. Mungkin sampai pada tahap penyesuaian UKT.”

Nah, soal besaran keringanan ini, tampaknya tak akan seragam. Akan dilihat kasus per kasus. Prinsipnya sih sederhana: UGM ingin memastikan mahasiswa yang kena musibah tetap bisa kuliah dengan lancar sampai wisuda.

“Kami yakin anak-anak kami akan survive sampai lulus,” tegasnya. “Apa pun bantuan yang bisa universitas berikan, akan kita lakukan untuk membantu mereka mencapai cita-cita.”

Ceritanya nggak cuma mahasiswa, lho. Andi Sandi menyebut beberapa dosen dan tenaga kependidikan juga kesulitan menghubungi keluarga di lokasi bencana. “Update terbarunya memang belum kami terima. Tapi kami terus berupaya mencarikan info, sudah koordinasi dengan kementerian terkait,” terangnya.

Korban Diperkirakan Capai 1.800 Orang

Angkanya cukup besar. Rustamaji, Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, menyebut setidaknya ada sekitar 1.800 mahasiswa, dosen, dan tendik yang keluarganya kemungkinan terdampak.

“Minimal segitu,” kata Rustamaji.

Saat ini verifikasi ke fakultas-fakultas masih berjalan. Tujuannya jelas: untuk memetakan kebutuhan dan membuka ruang dialog mengenai risiko yang dihadapi saudara-saudara mereka di lokasi.

Tak cuma berhenti di data, UGM juga bergerak. Beberapa unit sudah dikerahkan ke lapangan. Katanya, tim dari Fakultas Kedokteran kemungkinan sudah tiba. Disaster Response Unit (DERU) UGM juga sedang dalam perjalanan ke Aceh.

“DERU sedang menuju ke lokasi di Aceh. Begitu pula tim dari Rumah Sakit Akademik UGM,” beber Rustamaji.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Heboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tayang: Sabtu, 16 Agustus 2025 08:53 WIB Tribun XBaca tanpa iklan Editor: Valentino Verry zoom-inHeboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tribunjatim.com/Isya Anshari A-A+ INGIN DONOR ORGAN TUBUH - Yusa Cahyo Utomo, terdakwa pembunuh satu keluarga, divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (13/8/2025) siang. Yusa mengaku menyesali perbuatannya dan berkeinginan menyumbangkan organ tubuhnya kepada sang keponakan yang masih hidup, sebagai bentuk penebusan kesalahan. WARTAKOTALIVE.COM, KEDIRI - Jika seorang terdakwa dijatuhi vonis mati biasanya tertunduk lesu, ada pula yang menangis. Lain halnya dengan Yusa Cahyo Utomo, terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Kediri, Jawa Timur. Tak ada penyesalan, bahkan dia sempat tersenyum kepada wartawan yang mewancarainya usai sidang vonis oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025). Dengan penuh percaya diri, Yusa Cahyo Utomo ingin mendonorkan organ tubuhnya usai dijatuhi vonis mati oleh majelis hakim. Baca juga: Alasan Pembunuh Satu Keluarga Tak Habisi Anak Bungsu, Mengaku Kasihan Saat Berusaha Bergerak Tentu ini cukup aneh, namun niat Yusa Cahyo Utomo ini ternyata ada makna yang besar. Donor organ tubuh adalah proses yang dilakukan untuk menyelamatkan atau memperbaiki hidup penerima organ yang mengalami kerusakan atau kegagalan fungsi organ. Biasanya, orang akan secara sukarela menyumbangkan organ tubuhnya untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan. Saya berpesan, nanti di akhir hidup saya, bisa sedikit menebus kesalahan ini (membunuh) dengan menyumbangkan organ saya, ucapnya dilansir TribunJatim.com. Baca juga: Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Kediri Ternyata Masih Saudara Sendiri, Ini Motfinya Kalau saya diberikan hukuman mati, saya siap menyumbangkan semua organ saya, apapun itu, imbuhnya. Yusa Cahyo Utomo merupakan warga Bangsongan, Kecamatan Kayen, Kabupaten Kediri. Ia adalah seorang duda cerai dengan satu anak. Yusa merupakan pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga di Dusun Gondang Legi, Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Desember 2024. Yusa menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri) Agus Komarudin (38) dan Kristina (34), beserta anak sulung, CAW (12). Anak bungsu korban, SPY (8), ditemukan selamat dalam kondisi luka serius. Yusa mengaku ia tak tega menghabisi nyawa SPY karena merasa kasihan. Tersangka meninggalkannya dalam kondisi bernapas. Alasannya dia merasa kasihan pada yang paling kecil, ungkap AKP Fauzy Pratama yang kala itu menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kediri, masih dari TribunJatim.com. Hubungan Yusa dengan korban Kristina adalah kakak adik. Pelaku merupakan adik kandung korban. Namun, sejak kecil, Yusa diasuh oleh kerabat lainnya di Bangsongan, Kecamatan Kayen. Selama itu, Yusa tak pernah mengunjungi keluarganya yang ada di Pandantoyo, Kecamatan Ngancar. Dikutip dari Kompas.com, motif Yusa menghabisi Kristina dan keluarganya karena masalah utang dan rasa sakit hati. Yusa memiliki utang di sebuah koperasi di Kabupayen Lamongan sebanyak Rp12 juta dan kepada Kristina senilai Rp2 juta. Karena Yusa tak memiliki pekerjaan dan utangnya terus menumpuk, ia pun memutuskan bertemu Kristina untuk meminjam uang. Kristina menolak permintaan Yusa sebab sang adik belum melunasi utang sebanyak Rp2 juta kepadanya. Penolakan itu kemudian memicu rasa sakit hati bagi Yusa hingga merencanakan pembunuhan terhadap Kristina dan keluarganya. Buntut aksi kejamnya, Yusa tak hanya divonis mati, pihak keluarga juga enggan menerimanya kembali. Sepupu korban dan pelaku, Marsudi (28), mengungkapkan pihak keluarga tak akan menerima kepulangan Yusa. Keluarga sudah enggak mau menerima (jika pelaku pulang), ungkapnya. Kronologi Pembunuhan Rencana pembunuhan oleh Yusa Cahyo Utomo terhadap Kristina dan keluarganya berawal dari penolakan korban meminjami uang kepada pelaku, Minggu (1/12/2024). Sakit hati permintaannya ditolak, Yusa kembali ke rumah Kristina pada Rabu (4/12/2024) dini hari pukul 3.00 WIB. Ia menyelinap ke dapur di bagian belakang rumah dan menunggu Kristina keluar. Saat Kristina keluar, Yusa lantas menghabisi nyawa kakak kandungnya itu menggunakan palu. Suami Kristina, Agus, mendengar suara teriakan sang istri dan keluar untuk mengecek. Nahas, Agus juga dibunuh oleh Yusa. Aksi Yusa berlanjut dengan menyerang anak Kristina, CAW dan SPY. Namun, ia membiarkan SPY tetap hidup sebab merasa kasihan. Usai melancarkan aksinya, Yusa membawa barang berharga milik korban, termasuk mobil dan beberapa telepon genggam. Ia kemudian kabur ke Lamongan dan berhasil ditangkap pada Kamis (5/12/2025). Atas perbuatannya, Yusa dijatuhi vonis mati buntut pembunuhan berencana terhadap Kristina dan keluarga. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Yusa Cahyo Utomo dengan hukuman mati, kata Ketua Majelis Hakim, Dwiyantoro dalam sidang putusan yang berlangsung di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025), pukul 12.30 WIB, masih dikutip dari TribunJatim.com.

Terkini