Ia lantas berbicara panjang lebar tentang nilai sebuah pohon. "Apa salah pohon kayu? Dia diam, satu pun enggak ngapa-ngapain," katanya.
"Dia memberikan begitu banyak kebaikan buat manusia, mencegah erosi, memberikan udara, menyaring udara yang segar buat manusia, kok dipotong begitu saja," ujar politikus Gerindra itu, mempertanyakan keserakahan yang terjadi.
Poinnya jelas. Kayu memberi banyak manfaat, tapi manusia justru menebangnya tanpa tanggung jawab. Akibatnya bisa ditebak: bencana alam yang merenggut segalanya. Titiek Soeharto, melalui kemarahannya yang manusiawi itu, seolah mengingatkan kita semua tentang sebuah keseimbangan yang sudah lama goyah.
Artikel Terkait
Khalil dan Appank Juara Liga Ramadan Domino IKA Unhas 2026
Ratusan Pemudik Menginap di Pelabuhan Samarinda Demi Tak Ketinggalan Kapal
Real Madrid Hajar Elche 4-1, Kokoh di Puncak Klasemen La Liga
Gempa Magnitudo 4.1 Guncang Sukabumi Dini Hari