Peta yang dirilis Jatam menunjukkan sesuatu yang menarik. Kabupaten-kabupaten yang paling parah terdampak dan berstatus siaga darurat seperti Pidie Jaya, Aceh Tengah, hingga Aceh Singkil ternyata punya cerita yang lebih dari sekadar luapan sungai.
Memang, penjelasan resmi menyebutkan hujan berhari-hari sebagai pemicu. Tapi peta itu menambahkan lapisan fakta lain. Di hulu sungai yang sama, bertumpuk izin: lebih dari 30 izin tambang mineral dan batu bara, ditambah konsesi kayu dan HTI. Totalnya mencapai 132 ribu hektare lebih, dan membentang hingga ke pinggiran permukiman warga.
Ambil contoh Linge di Aceh Tengah. Di sana, PT THL mengelola hampir 100 ribu hektare hutan.
Jadi, apa kesimpulannya? Bagi Jatam, bencana di Aceh ini bukan sekadar musibah alam biasa.
Ini juga soal bagaimana lahan-lahan raksasa dikuasai oleh segelintir elit, termasuk mereka tegaskan presiden yang ikut menentukan seberapa parah air bah menerjang kampung-kampung di hilir.
Artikel Terkait
Fisika Cinta: Kisah Kikuk Mahasiswa Jenius Mengejar Hati Gadis Akuntansi
Zikir dan Istighfar: Kunci Hati yang Lembut di Tengah Gempuran Dunia
Eggy Sudjana dan JKW: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Guru vs Murid di Jambi Berujung Pengeroyokan dan Laporan Polisi