4 Desember: Dari Deklarasi GAM hingga Tragedi Langit Tanjung Kupang

- Kamis, 04 Desember 2025 | 05:55 WIB
4 Desember: Dari Deklarasi GAM hingga Tragedi Langit Tanjung Kupang

Tanggal 4 Desember ternyata menyimpan beberapa catatan sejarah yang cukup kelam dan juga monumental. Di Indonesia, misalnya, hari ini erat kaitannya dengan sebuah deklarasi yang mengubah lanskap politik di Aceh untuk puluhan tahun ke depan.

Semuanya berawal pada 1976. Tepatnya tanggal 4 Desember, Hasan di Tiro bersama para pengikutnya secara terang-terangan menyatakan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Mereka mendirikan organisasi yang dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM.

Inti pergerakannya jelas: memisahkan Aceh dari Republik Indonesia. Konflik bersenjata yang kemudian meletus antara pemerintah pusat dan GAM berlarut-larut. Menurut berbagai catatan, konflik itu merenggut nyawa sekitar 15.000 orang sebelum akhirnya berakhir. Hasan di Tiro sendiri memimpin gerakan ini dari jauh, tepatnya dari Swedia, di mana dia juga menjadi warga negara. Menariknya, dia sempat kembali memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 2 Juni 2010. Sayangnya, hanya sehari setelahnya, dia menghembuskan napas terakhir di Banda Aceh.

Nah, kalau kita mundur setahun dari peristiwa itu, tepatnya ke 4 Desember 1977, dunia penerbangan internasional juga dikejutkan oleh sebuah tragedi. Sebuah pesawat Boeing 737 milik Malaysia Airlines, penerbangan nomor 653, jatuh di daerah Tanjung Kupang, Johor. Pesawat itu sebenarnya sedang dalam perjalanan dari Penang ke Singapura dengan transit di Kuala Lumpur.

Yang bikin ngeri, pesawat itu dibajak di tengah udara. Upaya pendaratan darurat di Bandara Changi, Singapura, gagal total. Akhirnya, pesawat itu jatuh dan menewaskan semua orang di dalamnya: 93 penumpang dan 7 awak. Ini jadi salah satu kecelakaan paling mematikan dalam sejarah maskapai itu.

Korban jiwa berasal dari berbagai negara. Yang membuat peristiwa ini makin menyedihkan, ada sejumlah pejabat tinggi di dalam pesawat itu. Menteri Pertanian Malaysia, Dato' Ali Haji Ahmad, ikut menjadi korban. Begitu pula dengan Kepala Departemen Pekerjaan Umum Malaysia dan bahkan Duta Besar Kuba untuk Jepang.

Melompat ke tahun 2011, dunia sepak bola global berduka. Tanggal 4 Desember tahun itu, seorang legenda Brasil mengembuskan napas terakhir di São Paulo. Dia adalah Sócrates, pemain yang namanya selalu dikenang bukan hanya karena postur tubuhnya yang tinggi, tapi terutama karena kecerdasannya di lapangan.

Dia itu tipe gelandang serang yang visioner. Umpan-umpan terobosannya tajam, dan dia mahir menggunakan kedua kakinya. Sócrates juga terkenal dengan trik umpan tumitnya yang spektakuler, sering dilakukan tanpa melihat ke arah penerima umpan. Bagi yang pernah menyaksikan aksinya, kepergiannya di usia 57 tahun benar-benar kehilangan besar.

Di sisi lain, tanggal yang sama juga mencatat kelahiran seorang pemimpin. Roh Tae-woo lahir di Daegu pada 4 Desember 1932, saat Korea masih di bawah pendudukan Jepang. Karirnya dimulai dari dunia militer, di mana dia mengukir nama sebagai seorang jenderal.

Jalan itu akhirnya membawanya ke puncak kekuasaan. Roh Tae-woo kemudian terpilih dan menjabat sebagai Presiden Korea Selatan yang keenam, memimpin negara dari tahun 1988 hingga 1993. Masa pemerintahannya menjadi bagian dari transisi penting negeri Ginseng itu menuju demokrasi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar