Banjir bandang yang menggulung Aceh Timur sejak Jumat lalu memang luar biasa dahsyat. Wilayah itu luluh lantak. Tapi di tengah kehancuran itu, Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky punya tekad yang keras: ia tak akan menyerah.
Berbeda dengan lima kepala daerah lain di Aceh seperti dari Pidie Jaya, Aceh Barat, hingga Lhokseumawe yang menyatakan ketidaksanggupan, Iskandar justru memilih untuk terus bertahan. Pemerintahan harus tetap berjalan, bantuan untuk korban tidak boleh berhenti. Itu prinsipnya.
“Saya tidak mengangkat bendera putih,” tegasnya saat berbincang dengan media, Rabu (3/12).
“Saya masih terus berjuang di lapangan dengan segenap sumber daya yang saya miliki.”
Ucapannya itu bukan sekadar retorika. Iskandar ingin masyarakat tahu betul sikap pemkab. Menurutnya, ini penting agar tidak timbul salah paham di tengah situasi yang sudah begitu pelik.
Di sisi lain, dampak bencana ini sungguh memilukan. Data terbaru yang ia sampaikan, korban jiwa di Aceh Timur saja sudah mencapai setidaknya 30 orang. Iskandar sendiri telah turun langsung ke lokasi terdampak. Ia menyaksikan sendiri kondisi lumpur yang dalamnya sampai setinggi leher orang dewasa.
Namun begitu, pengalaman melihat langsung penderitaan warganya justru menguatkan tekadnya. Ia berjanji akan terus menangani dampak banjir bandang ini, apa pun yang terjadi. Perjuangan di lapangan, katanya, masih jauh dari usai.
Artikel Terkait
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1
Empat Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Masih Dirawat Intensif, Pelaku Terungkap Motif Sakit Hati
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar