Netanyahu Buka Peluang Kesepakatan dengan Suriah, Usulkan Zona Demiliterisasi

- Rabu, 03 Desember 2025 | 01:54 WIB
Netanyahu Buka Peluang Kesepakatan dengan Suriah, Usulkan Zona Demiliterisasi

Benjamin Netanyahu, sang Perdana Menteri Israel, tiba-tiba saja membuka peluang. Ia bilang, sebuah kesepakatan dengan Suriah bisa saja terwujud. Sikapnya ini tampak melunak, dan banyak yang mengaitkannya dengan teguran dari Donald Trump soal serangan-serangan Israel ke wilayah Suriah.

Menurut sejumlah saksi, Netanyahu menguraikan harapannya agar otoritas Suriah mau membentuk zona penyangga yang bebas militer. Zona itu akan membentang dari Damaskus hingga ke Jabal al-Sheikh wilayah yang saat ini justru diduduki oleh Israel. Pernyataannya itu disampaikan pada hari Selasa, cuma sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya agar Suriah dan Israel punya hubungan yang "panjang dan makmur".

Sebenarnya, pembicaraan soal perjanjian keamanan antara kedua negara ini sudah berjalan berbulan-bulan. Tapi ya itu, dalam beberapa pekan terakhir, prosesnya seperti jalan di tempat. Padahal, isunya sudah panas.

Di sisi lain, kita tahu Suriah secara resmi tidak mengakui Israel. Dan Israel sendiri, dalam setahun terakhir, terus memperluas pendudukannya di wilayah Suriah secara ilegal. Ambil contoh Dataran Tinggi Golan. Wilayah itu direbut Israel dari Suriah dalam perang 1967, lalu dicaplok secara sepihak langkah yang hanya diakui Amerika Serikat, sementara hampir seluruh dunia menolaknya.

Setelah Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024, situasi makin rumit. Israel menarik kembali kesepakatan tahun 1974 dan malah meluaskan pendudukannya lebih jauh. Mereka merebut area-area baru, termasuk seluruh wilayah Jabal al-Sheikh. Gunung itu strategis, mengawasi kawasan utara Israel dan selatan Suriah.

Meski pemerintah baru di Damaskus berulang kali bilang tidak ingin konfrontasi, serangan Israel ke Suriah terus terjadi. Hanya dalam setahun terakhir, sudah berkali-kali. Yang terbaru, Jumat lalu, sebuah serangan di kota Beit Jinn menewaskan 13 orang.

“Apa yang kami harapkan dari Suriah tentu saja adalah pembentukan zona penyangga demiliterisasi dari Damaskus hingga wilayah penyangga, termasuk jalur menuju Gunung Hermon dan puncak Hermon,”

Ucap Netanyahu saat menjenguk prajurit yang terluka di Israel tengah. Ia menggunakan nama Israel untuk Jabal al-Sheikh.

“Kami menguasai wilayah-wilayah ini untuk memastikan keamanan warga Israel, dan itulah yang menjadi kewajiban kami.”

Lalu ia menambahkan, nada sedikit lebih terbuka, “Dengan niat baik dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini, sangat mungkin mencapai kesepakatan dengan pihak Suriah. Namun kami akan tetap berpegang pada prinsip-prinsip kami dalam keadaan apa pun.”

Namun begitu, tuntutan Netanyahu ini langsung menuai kecaman. Gideon Levy, kolumnis ternama di harian Haaretz, menyiksinya dengan keras. Ia menyebut permintaan itu "sangat berani dan keterlaluan".

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar