“Kami ini juga hanya sesama sopir, kami juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi kalau menolak harusnya disampaikan ke Pemerintah saja, bukan ke kami,” ungkapnya.
Di sisi lain, belum jelas apakah aksi para sopir mikrolet akan berlanjut atau tidak. Mereka masih menunggu perkembangan selanjutnya.
Aksi yang terjadi ini sebenarnya adalah lanjutan dari unjuk rasa sebelumnya. Para sopir mikrolet merasa kecewa berat. Pasalnya, Pemerintah Kota Manado dianggap melanggar kesepakatan yang sudah dibuat bersama dalam pertemuan hari Senin (1/12).
“Sudah ada kesepakatan kemarin dengan pihak pemerintah dan kepolisian kalau Bus Trans Manado ini akan berhenti beroperasi selama bulan Desember sampai Januari. Tapi kenyataannya mereka tetap beroperasi,” jelas Makarius Samodara, salah satu sopir yang ikut demo.
Jadi, inti masalahnya ada di situ. Kesepakatan di atas kertas ternyata tak berjalan di lapangan. Kini, warga Manado yang harus menanggung akibatnya dengan terhentinya layanan bus.
Artikel Terkait
Parkir Darurat Banjir Dihargai Rp1,5 Juta, Mobil Tetap Terendam
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak