Curut Pendukung Gibran Diserang, Rommi Irawan Singgung Lagi Keputusan Paman MK

- Selasa, 02 Desember 2025 | 11:50 WIB
Curut Pendukung Gibran Diserang, Rommi Irawan Singgung Lagi Keputusan Paman MK

Politikus Demokrat Sebut Curut Pendukung Gibran, Soroti "Keputusan Paman MK"

Lewat media sosial, Rommi Irawan dari Partai Demokrat melayangkan kritik pedas. Sasaran utamanya adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan para pendukungnya. Kritiknya tak tanggung-tanggung, menyentuh putusan Mahkamah Konstitusi yang dulu ramai diperbincangkan.

“Pak @prabowo, rakyat tidak lupa. Sandera keputusan Paman MK, soal batas usia maksimal capres. Begitu koalisi umumkan Cawapres, besoknya MK putuskan menolak,”

Begitu kira-kira bunyi cuitan Rommi pada Selasa lalu. Unggahan itu langsung mengingatkan publik pada kontroversi tahun 2023 silam. Saat itu, MK mengubah aturan batas usia minimal capres-cawapres sebuah keputusan yang membuka jalan bagi Gibran untuk maju di Pilpres 2024. Meski soal batas "maksimal" usia akhirnya ditolak, Rommi menilai ritme putusannya janggal. Menurut dia, semuanya terasa diatur, sarat dengan muatan politik.

Namun begitu, serangannya tidak hanya berhenti di situ.

Rommi kemudian menyinggung para pendukung Gibran yang aktif di media sosial. Tantangannya terang-terangan. “Pendukung Gibran nantang WAR? Gw ladenin,” tulisnya. WAR adalah akronim dari "Warga Anies-Rommy", sebutan untuk pendukung tertentu.

Ia bahkan menyematkan istilah “curut” untuk menggambarkan para pendukung tersebut. Istilah itu, yang jelas bernada merendahkan, menunjukkan bagaimana konflik verbal di kalangan elit politik kian memanas dan personal.

Yang bikin pernyataannya makin keras adalah ketika ia menyebut dua nama besar.

“Sekelas JKW, Moeldoko begal partai, gw lawan. Apalagi curut pendukung Gibran,”

Kalimat itu merujuk pada kisruh internal Partai Demokrat tahun 2021. Saat itu, Moeldoko dituding mencoba mengambil alih kendali partai lewat Kongres Luar Biasa di Deli Serdang. Meski upayanya akhirnya tidak disahkan oleh MK, memori peristiwa itu masih terasa hangat dan kerap diangkat dalam perdebatan politik.

Dengan menyebut pengalamannya "melawan" figur sekaliber Jokowi dan Moeldoko, Rommi sepertinya ingin menyampaikan pesan yang jelas: dia tidak takut. Konflik politik tingkat tinggi saja sudah dihadapinya, apalagi sekadar menghadapi serangan di dunia maya. Pernyataannya ini bukan cuma kritik biasa, tapi lebih seperti pernyataan sikap yang siap memicu gelombang baru perbincangan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar