Bencana Berulang di Sumbar, Sumut, dan Aceh: Alam Murka atau Ulah Manusia?

- Selasa, 02 Desember 2025 | 07:50 WIB
Bencana Berulang di Sumbar, Sumut, dan Aceh: Alam Murka atau Ulah Manusia?

Banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung kembali melanda. Wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh jadi sasarannya. Lagi-lagi.

Duka pun berdatangan. Ada warga yang terseret arus deras. Rumah-rumah hanyut tak bersisa. Banyak keluarga terpaksa mengungsi, meninggalkan segalanya. Yang menyedihkan, sebagian korban masih belum bisa dievakuasi. Akses jalan terputus total, hujan terus mengguyur, dan medan yang sulit bikin upaya penyelamatan nyaris seperti mustahil.

Di tengah situasi itu, BNPB dan BPBD setempat berjuang mati-matian. Tapi ya, keterbatasan peralatan dan personel jadi kendala nyata. Belum lagi cuaca ekstrem yang sama sekali tak membantu.

Ini bukan cerita baru. Tragedi serupa berulang setiap tahun dengan pola yang nyaris sama: datang secara masif, memakan banyak korban, tapi penanganannya selalu terasa lamban dan bersifat insidental. Pemerintah turunkan bantuan, tim evakuasi dikerahkan, logistik dibagi-bagikan. Tapi setelah semuanya reda? Penyebab utamanya tak kunjung berubah.

Lalu, pertanyaan besarnya: kenapa bencana ini terus berulang? Dan bagaimana sebenarnya Islam memandang realitas pahit ini bukan cuma sebagai musibah alam belaka, tapi juga sebagai cermin dari cara kita, manusia, mengelola bumi?

Bukan Cuma Alam yang Murka, Tangan Manusia Juga Berperan

Secara ilmiah, banjir dan longsor di banyak daerah Indonesia itu jarang yang benar-benar murni bencana alam. Lebih sering, itu adalah akibat dari ulah kita sendiri. Kerusakan hutan yang masif, pembukaan lahan besar-besaran, tata ruang yang amburadul penuh pelanggaran.

Pembangunan kerap mengabaikan daya dukung lingkungan. Ketamakan para pelaku usaha yang cuma kejar untung, ditambah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum dari pemerintah. Semuanya berkontribusi.

Faktanya, eksploitasi alam di negeri ini terbilang sangat tinggi. Penebangan hutan, aktivitas pertambangan, alih fungsi lahan serapan air jadi kawasan industri semua terus terjadi. Belum lagi soal korupsi perizinan, kongkalikong proyek infrastruktur, dan pembangunan yang orientasinya profit, bukan keselamatan manusia.

Intinya, bencana ini seringkali bukan "bencana alam", tapi lebih tepat disebut "bencana akibat ulah manusia".

Islam sudah mengingatkan jauh-jauh hari:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan cuma bicara fenomena spiritual. Ini realitas ekologis yang nyata. Saat manusia jadi tamak dan serakah, saat mereka mengacaukan keseimbangan (mizan) yang Allah tetapkan, maka kerusakan itu akan balik menghantam mereka dalam wujud musibah.

Sistem Kapitalisme: Pemicu Eksploitasi dan Kerusakan

Kalau ditelusuri lebih dalam, akar banyak bencana ekologis ini ada pada paradigma kapitalistik. Sistem ini punya watak mengejar keuntungan tanpa batas. Alam cuma dilihat sebagai komoditas. Hutan, sungai, dan tanah dikorbankan demi investasi. Pertumbuhan ekonomi diutamakan, meski harus merusak ekologi. Industrialisasi didorong, tapi mitigasi dampaknya diabaikan.

Hasilnya? Penambangan masif, perkebunan skala raksasa, pembangunan properti tanpa AMDAL yang ketat, dan infrastruktur yang menggerus ruang konservasi.

Dalam pandangan Islam, ini jelas sebuah penyimpangan besar. Sebab dalam Islam, alam bukan objek yang boleh dieksploitasi semaunya. Ia adalah amanah dari Allah, titipan untuk generasi mendatang. Merusak ekologi berarti mengkhianati amanah itu.

Islam secara tegas melarang tindakan yang membawa bahaya, baik untuk manusia maupun lingkungan:

“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya…” (HR. Ibn Majah)

Sementara itu, model kapitalisme yang jadi landasan pembangunan justru mendorong kerusakan itu. Makanya, wajar saja kalau bencana terus berulang. Sistem yang dipakai tidak berpihak pada keberlanjutan, tapi pada keuntungan semata.

Penanganan Bencana: Sering Telat, dan Cuma Jangka Pendek

Selain soal penyebab, penanganan pasca-bencana juga banyak masalahnya. Di lapangan, yang terlihat adalah:

  1. Evakuasi terhambat. Personel terbatas, akses sulit, peralatan seadanya.
  2. Mitigasi yang lemah. Sosialisasi minim, kesadaran masyarakat masih rendah, infrastruktur pencegah bencana jauh dari memadai.
  3. Kebijakan yang tidak berkelanjutan. Fokusnya cuma tanggap darurat, bukan pencegahan jangka panjang.
  4. Koordinasi birokrasi yang lamban. Sering tumpang tindih antara pusat, provinsi, dan daerah.
  5. Investasi untuk kesiapsiagaan yang sangat minim. Padahal, negara dengan ancaman bencana tinggi wajib punya sistem mitigasi yang mapan.

Ini semua menunjukkan bahwa negara belum benar-benar menjadikan pengelolaan bencana sebagai prioritas strategis. Polanya masih seperti "pemadam kebakaran": baru bergerak kalau bencana sudah terjadi, tapi ogah-ogahan saat harus mencegahnya.

Dalam Islam, kebijakan seperti ini jelas mengabaikan amanah besar untuk menjaga nyawa rakyat. Negara punya kewajiban untuk memastikan keselamatan warganya dengan membangun sistem mitigasi yang komprehensif, mengatur tata ruang yang aman, melindungi lingkungan, dan menyiapkan mekanisme tanggap bencana yang cepat dan memadai.

Paradigma Islam: Melihat Bencana dari Dua Sisi

Islam memberikan dua kerangka penting untuk memahami bencana.

Pertama, Dimensi Ruhiyah (Spiritual). Musibah adalah tanda kekuasaan Allah, sebuah pengingat, dan bentuk ujian. Tapi, ini jangan disalahartikan jadi sikap fatalis. Islam tidak menganjurkan kita pasrah tanpa ikhtiar. Justru, Islam mengajak untuk introspeksi, memperbaiki hubungan dengan Allah, menjauhi maksiat terhadap alam, dan menegakkan etika sebagai khalifah di bumi. Singkatnya, bencana harus jadi momentum untuk muhasabah.

Kedua, Dimensi Siyasiyah (Politik). Islam menegaskan bahwa pemimpin wajib mengelola ruang, alam, dan sumber daya berdasarkan prinsip keadilan, amanah, dan berkelanjutan. Orientasinya harus keselamatan rakyat dan menjaga keseimbangan ekologi.

Kerusakan lingkungan akibat kelalaian pemerintah, apalagi kalau sampai membiarkan korporasi serakah, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan.

Lalu, Solusi seperti apa yang Ditawarkan Islam?

Pertama, membangun kesadaran ruhiyah masyarakat. Harus ditegaskan bahwa merusak alam adalah dosa. Alam adalah makhluk Allah yang harus dijaga. Edukasi publik di keluarga, sekolah, lembaga dakwah wajib ditingkatkan.

Kedua, mengakhiri eksploitasi kapitalistik terhadap alam. Penataan ulang kebijakan lingkungan harus berdasarkan nilai syariah: mencegah bahaya (dar'u al-mafasid), mewujudkan kemaslahatan umum (maslahah 'ammah), melindungi hak generasi mendatang, dan membatasi eksploitasi sumber daya secara ketat. Islam menolak sistem ekonomi yang halalkan perusakan alam demi profit.

Ketiga, negara wajib menyediakan sistem mitigasi yang kuat dan komprehensif. Mulai dari pemetaan risiko, peringatan dini, tata ruang ketat, rehabilitasi hutan, infrastruktur perlindungan, edukasi kebencanaan di sekolah, hingga pembiayaan yang memadai. Negara tidak boleh cuma aktif saat bencana terjadi.

Keempat, tanggung jawab penuh dalam pemulihan korban. Pemerintah wajib berikan bantuan logistik yang layak, layanan kesehatan, dukungan psikologis, tempat tinggal sementara yang manusiawi, dan pemulihan ekonomi sampai korban benar-benar pulih. Ini bukan sekadar kebijakan, tapi kewajiban syar'i untuk menjaga nyawa (hifzhun nafs).

Penutup: Bencana adalah Cermin yang Harus Kita Lihat

Banjir, longsor, dan berbagai musibah yang terus berulang ini harusnya jadi tamparan keras bagi kita semua. Kerusakan lingkungan yang terjadi bukanlah kebetulan. Banyak di antaranya adalah buah dari keserakahan manusia, terutama dalam sistem yang menjadikan alam sebagai sapi perah.

Islam menawarkan paradigma yang lebih luhur: manusia adalah khalifah di muka bumi, bukan penguasa absolut. Allah memberikan amanah, bukan izin untuk merusak.

Sudah waktunya kita hentikan pendekatan pembangunan yang cuma kejar pertumbuhan ekonomi dan investasi, tapi korbankan keselamatan rakyat dan keberlanjutan lingkungan. Bencana jangan lagi dilihat sebagai takdir yang tak terelakkan, tapi sebagai sinyal kuat bahwa tata kelola kita selama ini salah arah.

Dengan kembali pada nilai-nilai Islam keadilan, keseimbangan, tanggung jawab ekologis, dan amanah kepemimpinan kita bisa bangun masa depan yang lebih aman, berkelanjutan, dan penuh berkah. Wallahu'alam.

Ernadaa Rasyidah

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar