Nama Dwinanda Linchia Levi mungkin tak terlalu dikenal publik. Tapi coba tanyakan pada mahasiswanya, atau rekan-rekan dosen di kampus. Mereka akan menggambarkan sosok yang hangat, cerdas, dan penuh hormat. Seorang dosen muda di sebuah universitas swasta di Semarang dengan segudang prestasi. Di usianya yang baru 35 tahun, masa depannya terang calon Guru Besar Fakultas Hukum yang potensial. Di kelas, ada satu kalimat yang selalu dia ucapkan dan diingat betul oleh para murid: "Hukum pidana itu asyik."
Namun begitu, semua potensi itu kini berakhir di TPU Jatisari, Semarang, pada suatu Selasa malam, 18 November 2025. Liang lahatnya dikelilingi pelayat yang berjejal. Pemandangan yang tak biasa untuk pemakaman malam hari, sampai-sampai membuat penjaga kuburan itu sendiri terkesima. Rombongan mahasiswa dan kolega hadir untuk melepas Dwinanda, atau Levi, yang sehari sebelumnya ditemukan tewas di sebuah guest house di kota itu.
Raymond Fernando, mahasiswa FH Untag semester 5, ada di antara kerumunan itu. Baginya, keramaian di tengah malam itu bicara banyak. "Beliau itu orang baik. Almarhumah enggak punya keluarga di sini. Tapi lihat saja, pemakaman malam, area kuburan penuh. Itu buktinya," katanya, mengenang suasana hari Rabu, 26 November.
Levi ditemukan meninggal di kamar 210 Mimpi Inn, tempat yang biasa dia tinggali di Jalan Telaga Bodas Raya. Tubuhnya tanpa busana. Polisi menyatakan tak ada tanda kekerasan. Hasil autopsi di RSUP Kariadi menyebutkan penyebabnya adalah pecah jantung akibat aktivitas berlebihan.
Fakta lain yang terungkap: sepanjang malam sebelum kematiannya, Levi berada di kamar itu bersama AKBP Basuki, seorang perwira polisi. Penyidikan mengungkap hubungan mereka di luar nikah telah berlangsung sejak 2020. Kini Basuki dicopot dari jabatannya dan ditahan terkait dugaan pelanggaran kode etik berat.
Kabarnya, banyak mahasiswa yang syok. Pesan tentang penemuan jasad dosen favorit mereka menyebar cepat di grup-grup percakapan. Raymond dan beberapa temannya bahkan menyempatkan diri ke RSUP Kariadi keesokan harinya, Selasa pagi, untuk melihat Levi untuk terakhir kali. "Kami diberi kesempatan melihat sebelum wajahnya ditutup kain putih," ujarnya.
Kelas yang 'Asyik' dan Kantin yang Ramah
Raymond pertama kali bertemu Levi di semester 2, dalam mata kuliah Hukum Pidana. Langsung terasa, gaya mengajarnya berbeda. Jauh dari kesan killer atau menakutkan. Levi membangun diskusi, memancing mahasiswa berpikir. Kelas yang biasanya dianggap berat jadi terasa hidup di tangannya.
Kalimat "Hukum pidana itu asyik" bukan sekadar ucapan. Levi bisa menunjukkan sisi menarik dari ilmu yang sering diidentikkan dengan urusan orang bermasalah itu. "Asyiknya di situ bagaimana kita mengolah kasus, menganalisis, bahwa orang yang bermasalah belum tentu bersalah," jelas Raymond. Banyak mahasiswa justru menemukan minat dan akhirnya memilih penjurusan pidana berkat pengaruhnya.
Keakraban itu terbawa sampai ke luar kelas. Empat atau lima hari sebelum kejadian, Levi masih sempat nongkrong di kantin fakultas, jajan dan ngobrol ringan dengan mahasiswa. Dia suka mampir ke sana. Saat kongko, dia sering membuka diskusi kecil sambil berbagi makanan. Kedekatan seperti inilah yang kemudian mendorong mahasiswa menuntut keadilan.
Mereka bahkan mendatangi Polda Jawa Tengah, membawa poster bertuliskan "Justice for Levi". Antonius Fransiscus Polu, perwakilan mereka, menyuarakan kejanggalan. "Kami dengar Bu Levi ada riwayat penyakit, tapi di TKP posisi korban bugil. Lalu hubungan dengan saksi kuncinya yang seorang polisi, kita belum tahu jelas," katanya.
Raymond mengaku baru tahu Levi punya penyakit. Selama di kampus, dosennya itu selalu terlihat sehat, bahkan rajin minum jamu. "Wong di sini suka minta tolong ke penjual kantin, 'Godokke iki'. Minuman herbal gitu," kenangnya.
Kebiasaan minum jamu itu juga dikonfirmasi Edi Pranoto, sesama dosen di Untag. Menurut cerita rekan-rekan, Levi sedang diet tertentu. Tapi Edi ingat, Levi pernah beberapa kali izin pulang cepat karena kurang enak badan. Beredar kabar kondisi kesehatannya sebenarnya cukup mengkhawatirkan: gula darah pernah mencapai 600, tekanan darah di angka 190. "Yang saya kaget, saat gula darahnya 600, beliau santai saja. Ning kantin yo mangan biasa," tutur Edi.
Data rekam medis yang dirilis polisi mengonfirmasi hal itu. Gula darah Levi memang sangat tinggi. Menariknya, sehari sebelum meninggal, dia sempat tes kesehatan di RS Telogorejo dan diinfus. Setelah keluar, rumah sakit mencoba menelepon untuk memintanya rawat inap karena hasil tes yang buruk. Sayang, telepon itu tak diangkat.
Santun Hingga ke Ujung Jari
Kenangan manis tentang Levi tak cuma dari kampus. Zainal Petir, pengacara keluarga, bercerita Levi adalah anak yang penurut dan dididik dengan baik. Sampai lulus S2 pun, dia selalu diantar-jemput ayahnya, tak pernah naik motor sendiri. "Karena dianggap manut," kata Zainal.
Prestasinya cemerlang. Lulus S2, lanjut doktoral. Tapi kecerdasan itu tak membuatnya sombong. Di kampus, dia dikenal sumeh, komunikatif, dan sangat menghormati senior. "Itu mungkin didikan orang tuanya," tambah Zainal.
Edi Pranoto membenarkan. Setiap ketemu rekan yang lebih senior, Levi selalu menyalami, bahkan mencium tangan. "Doktor Levi itu orang yang santun. Nek ketemu saya, salim, cium tangan. Diletakkan di kening atau pipinya. Sungguh santun," kenang Edi dengan nada haru.
Dengan kinerja dan konsistensinya menjalankan Tri Dharma, masa depannya sangat cerah. "Dia potensial jadi Guru Besar dalam waktu tidak lama," ujar Edi. Selain mengajar, Levi aktif jadi pembicara, bahkan pernah diundang ke Universitas Indonesia sebagai narasumber. "Bayangkan, dosen swasta dari Semarang bisa berbicara di pusatnya perguruan tinggi Indonesia. Luar biasa. Kami sangat kehilangan."
Kini, harapan keluarga dan mahasiswa tertumpu pada proses hukum. Zainal Petir berharap penyelidikan berjalan transparan. "Ungkap kematian ini secara terbuka, jujur. Kapolda harus mengawal karena yang disidik ini kan AKBP. Supaya prosesnya tidak kaku, tidak pakewuh," pintanya.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, menegaskan penyidik akan bekerja profesional, kredibel, dan akuntabel. Mereka meminta masyarakat bersabar. Saat ini, Polda masih berkonsultasi dengan dokter forensik, ahli patologi anatomi, dan toksikologi forensik. "Ketiga ahli itu nanti yang akan menyimpulkan penyebab kematian saudari D," tutup Artanto.
Artikel Terkait
BMKG: Sulsel Berawan, Siang Berpotensi Hujan Ringan pada 23 April
Peneliti Soroti Penurunan Skor Demokrasi Indonesia di Awal Pemerintahan Prabowo
ART di Maros Diamankan Usai Curi Cincin Emas dan Uang Majikan
Banjir Bandang di Kendal, Truk Pengangkut Batu Terseret Arus Kali Bodri