Air kecokelatan itu masih menggenang, nyaris setinggi lutut, memantulkan kubah biru Masjid Azizi yang tegak di jantung Pekan Tanjung Pura. Senin siang (1/12) itu, sunyi. Hanya riak air banjir yang sesekali menepuk pagar besi berwarna hijau.
Meski pelatarannya masih tertutup genangan luas, masjid itu tampak anggun, bertahan. Memang, air sudah mulai surut. Beberapa hari sebelumnya, ketinggiannya bahkan mencapai pinggang orang dewasa. Tapi, aktivitas di masjid tetap belum terlihat. Sepi.
Bencana ini datang tak sendirian. Langkat hanyalah satu dari sejumlah daerah di Sumut yang porak-poranda akibat cuaca ekstrem dari Siklon Tropis Senyar. Di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, banjir dan longsor telah merenggut nyawa. Sedikitnya 500 orang meninggal, dengan ratusan lainnya masih hilang. Jutaan orang terpaksa berhadapan dengan dampaknya.
Mengenal Masjid Azizi
Masjid ini punya sejarah panjang. Dibangun di atas lahan seluas 18.000 meter persegi, gagasan awalnya berasal dari Syekh Abdul Wahab Babussalam di masa Sultan Musa al-Muazzamsyah.
Pembangunannya dimulai sekitar 1899 Masehi. Sayangnya, Sultan Musa wafat sebelum proyek besar ini selesai.
Artikel Terkait
Medali Nobel Perdamaian Machado Berlabuh di Tangan Trump
Kiai Eko Tuding Bencana Aceh Sebagai Laknat, Warganet Geram
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai