Sutoyo Abadi Ramalkan Puncak Aksi Rakyat untuk Jokowi dan Luhut

- Senin, 01 Desember 2025 | 07:25 WIB
Sutoyo Abadi Ramalkan Puncak Aksi Rakyat untuk Jokowi dan Luhut

Situasi Jokowi dan LBP Menurut Sutoyo Abadi: Saatnya Akan Ditangkap Rakyat?

Kritik pedas kembali dilontarkan Sutoyo Abadi dari Kajian Politik Merah Putih. Kali ini, sasarannya adalah Luhut Binsar Pandjaitan atau LBP. Sutoyo menuding LBP sebagai aktor sentral yang berperan besar dalam meloloskan Jokowi sebagai presiden, dengan apa yang disebutnya sebagai "Strategi Desepsi".

Menurutnya, LBP dengan sengaja melakukan tindakan untuk mengelabui dan menyesatkan rakyat.

"LBP melakukan 'Strategi Desepsi' pada posisinya dan terus bertahan sebagai pionir asing yang menyatukan kepentingan AS dan Cina," ujar Sutoyo dalam keterangannya kepada media pada 1 Desember 2025.

Ia menambahkan, "Belum juga menyadari bahwa teori atau strategi apapun tidak akan bisa dilakukan. Para semangat zaman yang sudah berbeda."

Soal "semangat zaman" atau Zeitgeist ini, Sutoyo menjelaskan lebih jauh. Katanya, strategi, pemikiran, dan nilai-nilai kolektif yang dominan di suatu periode mungkin berhasil menipu saat itu. Namun, hal yang sama tak akan berlaku ketika situasi sudah berubah total.

Pola yang sama, klaimnya, juga melekat pada Jokowi.

"Jokowi sampai memiliki sifat dan kepribadian pembohong dan penipu. Polanya sama persis dengan LBP, tidak sadar keadaan atau situasi sudah berubah," tegasnya.

Persoalan TKA ilegal di Morowali dan daerah lain juga tak luput dari sorotan. Sutoyo menyebut klaim bahwa mereka adalah tenaga ahli sebagai penipuan kasat mata. Menurut pengamatannya, rakyat sudah paham bahwa sebagian besar dari mereka sebenarnya adalah buruh biasa, bahkan "manusia bekas" yang tak boleh kembali ke negara asalnya.

Yang aneh baginya, LBP masih bertahan di Kabinet Prabowo.

"Anehnya masih dipakai Presiden Prabowo, LBP masih nyantol di Kabinet Merah Putih," ujarnya.

Ia memperingatkan, "Strategi Desepsi" yang telah menyatu dalam kepribadian LBP ini berpotensi merusak keputusan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya, agar tetap melindungi dan menguntungkan oligarki yang melakukan desepsi.

Di sisi lain, Sutoyo menduga LBP mengalami Megalomania.

Dalam kondisi yang berubah cepat, sementara LBP masih bersikukuh dengan strategi lamanya, itu adalah tanda gangguan jiwa. Ditandai dengan keyakinan diri yang masih merasa besar, memiliki kekuasaan dan kecerdasan seperti di era Jokowi dulu.

"Ketika rakyat bersama TNI serius melakukan membersihkan dan penertiban penambang liar dan operasi TKA ilegal, LBP akan terdesak," papar Sutoyo.

Saat itulah, LBP akan bermanuver dengan tindakan untuk menarik perhatian rakyat lewat Strategi Desepsi-nya. Contohnya, seperti dalam kasus Whoosh dimana LBP membela diri dengan mengatakan sejak awal telah menerima "barang busuk".

Secara umum, Strategi Desepsi ini melibatkan manipulasi persepsi dan realitas. Keampuhannya sangat bergantung pada kemampuan menjaga kerahasiaan niat asli dan meyakinkan target akan realitas palsu yang diciptakan.

Sutoyo memprediksi, pertahanan terakhir LBP adalah beralih ke Strategi Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Ini adalah cara tidak sadar yang digunakan seseorang untuk melindungi diri dari perasaan tidak menyenangkan atau situasi mengancam.

Memang, mekanisme ini membantu mengatasi stres emosional dan menjaga harga diri. Tapi penggunaan yang berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya.

Lebih jauh lagi, Sutoyo mengemukakan bahwa strategi LBP akan rontok ketika terjadi Deviasi Sosial di masyarakat. Ketegangan muncul ketika Pasal 33 UUD 45 asli dianggap telah diacak-acak oleh "Strategi Desepsi LBP bersama kapitalis oligarki hitamnya".

Dalam situasi dimana masyarakat merasa tertindas, terpinggirkan, atau tidak mendapat keadilan, amuk rakyat bisa terjadi sebagai bentuk ekspresi ekstrem.

Dan ketika saat itu tiba, kata Sutoyo menutup pernyataannya, nasib LBP dan kroni-kroninya akan berakhir.

"Ketika saat itu tiba-tiba LBP bersama Jokowi dan semua kroni-kroninya akan tamat ditangkap oleh rakyat atau keburu melarikan diri ke Luar Negeri," tandasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar