Bagi seorang muslim, dakwah itu ibarat napas. Ia adalah kewajiban. Tapi jangan salah, tak semua orang mampu menjalankannya dengan baik. Butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan agama. Butuh keikhlasan yang tulus, kesabaran yang tak bertepi, dan keteguhan hati yang kokoh. Inilah kunci sesungguhnya. Dan bagi mereka yang mampu istikomah di jalan ini, pahala besar telah menanti.
Rasulullah Saw pernah bersabda:
"Barangsiapa yang berdakwah, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajarannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."
(HR. Muslim). Bayangkan, satu amalan, pahalanya terus mengalir seiring dengan setiap orang yang mengikuti ajakannya. Luar biasa, bukan?
Keikhlasan: Fondasi Utama
Semuanya berawal dari sini. Keikhlasan. Tanpanya, dakwah bisa kehilangan ruhnya, bagai tubuh tanpa nyawa. Ini soal memurnikan niat, hanya untuk Allah semata. Bukan untuk dapat pujian, apalagi imbalan duniawi.
Pertama, niat harus benar-benar bersih dari awal. Jangan sampai ada sedikit pun keinginan untuk disebut ustadz hebat atau dielu-elukan banyak orang.
Kemudian, ikhlas juga harus terwujud dalam tindakan. Maksudnya, saat kita sudah beramal, ya lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah hati. Jangan pula sambil mengharap balasan dari manusia.
Ujian dan Kesabaran
Nah, kalau soal yang satu ini, hampir pasti semua dai akan mengalaminya. Jalan dakwah jarang yang mulus. Penuh onak dan duri. Di sinilah kesabaran diuji.
Sabar ketika menghadapi kesulitan, misalnya. Bisa saja materi yang disampaikan tidak langsung diterima, atau kondisi lapangan yang tidak mendukung. Jangan menyerah.
Di sisi lain, sabar menghadapi penolakan juga tak kalah penting. Dikritik, dicemooh, atau bahkan diacuhkan. Itu semua adalah menu harian. Tetaplah lapang dada dan jangan goyah hanya karena perkataan orang.
Keteguhan Hati
Terakhir, ada keteguhan. Ini semacam pondasi yang membuat seorang dai tetap berdiri tegak meski diterpa badai cobaan.
Yang utama, teguh dalam akidah. Jangan sampai karena tekanan, keyakinan kita jadi goyah. Prinsip-prinsip dasar agama harus tetap dijaga, bagaimanapun keadaannya.
Selain itu, keteguhan dalam beramal juga krusial. Jangan sampai semangat hanya di awal saja, lalu kendor di tengah jalan. Konsistensi inilah yang nantinya akan membuahkan hasil.
Jadi, kalau dirangkum, tiga hal inilah keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan yang menjadi penentu. Dengan memilikinya, insya Allah dakwah kita tidak hanya sampai, tapi juga membekas. Dan tentu, pahala yang dijanjikan Allah pun akan mengalir deras.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa membimbing kita semua, para penyeru dakwah, untuk menjadi dai yang lebih baik. Dai yang ikhlas, sabar, dan tak mudah goyah. Amin.
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Artikel Terkait
BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Stabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Dolar AS
DPR Pimpin Rapat Koordinasi Fiskal-Moneter dengan Pemerintah dan BI untuk Evaluasi Ekonomi Nasional
Dua Pemuda Tenggelam di Danau Ranu Betok Probolinggo, Ditemukan Tewas
Tokoh Adat Papua Pelapor Film Pesta Babi Minta Perlindungan ke LPSK