Memuliakan Guru: Kewajiban Sepanjang Masa, Bukan Hanya Seremonial

- Senin, 24 November 2025 | 18:25 WIB
Memuliakan Guru: Kewajiban Sepanjang Masa, Bukan Hanya Seremonial

Oleh: Linda Haryanti

Tanggal 25 November selalu jadi pengingat. Hari Guru Nasional. Saatnya kita berhenti sejenak dan mengingat jasa para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tapi, cuma sehari? Rasanya kurang.

Dalam Islam, memuliakan guru itu bukan ritual tahunan. Ini prinsip hidup yang harus dipegang teguh. Guru, dalam pandangan agama, adalah sosok mulia. Mereka membawa amanah ilmu, sesuatu yang derajatnya diangkat tinggi oleh Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11).

Ayat ini jelas bukan cuma soal keutamaan ilmu. Ini juga tentang kemuliaan bagi mereka yang jadi perantara sampainya ilmu itu: para guru.

Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda:

"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud).

Maksudnya, guru yang mengajarkan ilmu agama atau ilmu umum selama tujuannya baik berada di barisan terdepan sebagai penerus estafet dakwah para nabi.

Coba lihat sejarah. Kemajuan sebuah peradaban hampir selalu ditopang oleh kualitas para pendidiknya. Tugas guru jauh lebih kompleks dari sekadar mengisi papan tulis. Mereka membimbing, mendampingi, dan yang paling krusial: menanamkan karakter. Butuh kesabaran yang luar biasa dan ketulusan yang jarang ditemui di profesi lain.

Bayangkan seorang guru seperti petani kehidupan. Dengan sabar, mereka menanam benih kebaikan di hati setiap murid. Lalu menyiraminya dengan nasihat, merawatnya dengan bimbingan, hingga akhirnya tunas-tuas akhlak dan wawasan itu tumbuh subur. Tanpa mereka, kita bisa tersesat, bingung membedakan mana jalan yang benar dan mana yang keliru. Mereka adalah lentera di kegelapan.

Menghormati guru adalah bagian tak terpisahkan dari adab menuntut ilmu. Ada cerita tentang Imam Syafi’i yang sangat terkenal. Konon, beliau membalik lembaran kitab di hadapan gurunya dengan sangat hati-hati. Semua itu dilakukan agar tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin mengganggu sang guru. Ini cuma satu contoh kecil. Intinya, para ulama dulu paham betul. Siapa yang meremehkan gurunya, jangan harap ilmunya berkah.

Lalu, bagaimana caranya menghormati guru? Beberapa hal yang diajarkan para ulama antara lain: perlakukan mereka dengan hormat layaknya orang tua sendiri, dengarkan baik-baik setiap nasihatnya, panjatkan doa untuk kebaikan mereka, dan yang terpenting amalkan ilmunya. Dengan mengamalkan ilmu yang diajarkan, itulah bentuk terima kasih tertinggi yang bisa kita berikan.

Namun begitu, tantangan yang dihadapi guru zaman sekarang jauh lebih berat. Teknologi berkembang pesat, pola pikir anak muda berubah, informasi membanjir, sementara problem moral kian ruwet. Di tengah semua itu, mereka tetap bertahan. Dengan kesabaran yang seolah tak ada habisnya, mereka terus memberikan keteladanan dan berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Jadi, di Hari Guru ini, mari kita renungkan lagi. Betapa besar jasa mereka dalam membentuk hidup kita. Seperti ajaran Islam, mari kita pahami bahwa memuliakan guru adalah kewajiban sepanjang hayat, bukan cuma seremonial satu hari. Selamat Hari Guru! Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah dan tetesan keringat para pendidik kita.

"Alumni STISHK Kuningan, Jawa Barat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar