Pernah nggak sih bertemu orang yang kehadirannya bikin geleng-geleng? Mereka ini seperti gangguan kecil dalam tatanan semesta. Memang nggak sampai merusak, tapi cukup bikin kita bertanya-tanya, kenapa ya evolusi memberi mereka ruang? Sayangnya, hampir semua dari kita pasti pernah bersinggungan dengan tipe manusia seperti ini.
Fenomena ini sebenarnya sudah diamati sejak zaman kuno. Filsuf Yunani Aristoteles, dalam karyanya Nicomachean Ethics, sudah mengidentifikasi karakter semacam ini dan memberinya nama: alazōn.
Menurutnya, alazōn adalah sosok yang haus validasi. Hidupnya seolah bergantung pada kepalsuan dan pencitraan, dengan bumbu narsisme yang kental. Mereka kerap membesar-besarkan pencapaian atau kemampuan yang sebenarnya tidak mereka miliki.
Nah, di sisi lain, Aristoteles juga mengenalkan konsep kebalikannya, yaitu eiron. Berbeda dengan si alazōn yang suka pamer, si eiron justru terlihat merendah. Tapi jangan salah, di balik sikap rendah hatinya itu, seringkali tersimpan kecerdasan dan kemampuan yang jauh lebih mumpuni. Sebuah ironi yang menarik, bukan?
Artikel Terkait
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik