Jakarta - Konflik internal yang sedang memanas di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dinilai pengamat politik Rocky Gerung jauh lebih dari sekadar perselisihan organisasi biasa. Menurutnya, ketegangan antara Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf ini merupakan geliat power struggle yang berpotensi memengaruhi stabilitas kabinet Prabowo, bahkan memicu reshuffle.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube miliknya, Rocky tak ragu menyebut situasi ini sebagai "prahara". Baginya, ini mencerminkan dilema klasik NU: bertahan di jalur kultural-keagamaan atau terjun lebih dalam ke kubangan pragmatisme politik.
Persaingan Dua Kekuatan
Rocky melihat jelas adanya persaingan dari sikap keduanya yang berbeda. Di satu sisi, Yahya bersikukuh tidak mau mundur. Sementara Saifullah justru mengajak warga NU untuk tenang dan menyerahkan segalanya kepada Syuriah.
"Ini menunjukkan ada persaingan antara Yahya dan Yusuf. Di belakang itu tentu ada pengelompokan yang berupaya mengambil momentum supaya soal-soal di NU ini tidak merembes ke politik, tapi sekaligus memungkinkan transaksi di dalam NU sendiri," ujar Rocky.
Pernyataan Yahya yang bilang hubungannya dengan Saifullah "baik-baik saja" tapi jarang ketemu karena kesibukan, bagi Rocky, justru mengisyaratkan ketegangan yang disembunyikan. Rasanya terlalu halus untuk dinamika sebenarnya.
Lebih Dalam dari Sekadar Isu Zionis
Memang, kontroversi undangan Peter Lerner, aktivis pro-Israel, jadi pemicu. Tapi Rocky yakin akar masalahnya jauh lebih dalam dan kompleks. Ia menyinggung soal polemik konsesi tambang era Jokowi yang kabarnya hingga kini nasibnya masih menggantung.
"Rentetan masalah ini berakumulasi sekarang dalam persaingan antar tokoh. Ada yang menerima bisnis tambang sebagai potensi organisasi massa, ada yang menduga terjadi tukar tambah dan kepentingan pribadi lebih diuntungkan ketimbang organisasi NU sendiri," jelasnya.
Jadi, ini bukan cuma soal satu undangan yang salah. Ada sejarah panjang dan kepentingan yang bertumpuk di baliknya.
Kaitannya dengan Kabinet dan Isu Reshuffle
Yang tak kalah penting, Rocky menegaskan bahwa konflik ini mustahil dipisahkan dari permainan kekuasaan di sekitar kabinet. Saifullah Yusuf sendiri duduk sebagai Menteri Sosial. Sementara faksi politik NU lewat PKB juga menempatkan beberapa kadernya di kabinet.
"Tak mungkin terhindarkan isu ini dengan potensi reshuffle. Radical break yang dimaksud Presiden Prabowo belum selesai, artinya akan ada reshuffle lagi. Potensi keretakan di dalam elit NU akan jadi pertimbangan untuk membaca arah reshuffle ke depan," katanya.
Ia menduga, munculnya nama Saifullah sebagai pihak yang mencoba "mengendalikan" situasi erat kaitannya dengan posisinya sebagai menteri. Bisa jadi ada kesepakatan tersirat dengan komunitas elit di sekitar istana.
Nasib Historis NU
Rocky menyebut konflik berulang di NU sebagai semacam "nasib historis". Organisasi yang lahir dengan nilai spiritual kuat ini terus dihadapkan pada tarik-ulur antara idealisme dan realita politik yang pragmatis.
"NU akan selalu ada dalam kondisi prahara. Ini dilema antara memilih menjadi organisasi kultural berbasis keagamaan atau organisasi kultural yang ada arah politiknya. Organisasi yang dirancang untuk memelihara nilai etika namun terlibat dalam soal-soal politiko-pragmatis," ungkapnya.
Hubungan tak harmonis antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Yahya, plus riwayat upaya kudeta dan counter-kudeta di internal, semakin mengukuhkan bahwa power struggle ini sudah berlangsung lama.
Rocky menutup analisisnya dengan nada tegas. Gejolak di NU ini, bagaimanapun, adalah cermin dari gejolak elit politik nasional. Dan kegelisahan ini, dipastikannya, akan memengaruhi dinamika politik nasional dalam beberapa minggu ke depan.
Artikel Terkait
Jakarta LavAni dan Bhayangkara Presisi Pastikan Duel di Final Proliga 2026
Prabowo Serukan Persatuan di Hadapan Ketua DPRD Se-Indonesia untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Borneo FC Kalahkan PSM Makassar 2-1 di Stadion Andi Mattalatta
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman