Matinya Roda Jam'iyyah Kami
Oleh: Gus Nadirsyah Hosen
Jam'iyyah ini berjalan terbalik, sungguh. Bayangkan saja: Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Tak cuma itu, hubungannya dengan Rais 'Am pun tidak akur. Sementara Rais 'Am sendiri konon tidak sreg dengan Katib 'Am yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum.
Akibatnya? Surat resmi Syuriyah cuma ditandatangani Rais 'Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan jelas mengharuskan empat tanda tangan: Rais 'Am, Katib 'Am, Ketum, dan Sekjen. Aturan dasar itu seolah tak ada artinya lagi.
Ini bukan sekadar organisasi macet. Lebih dari itu: mesinnya mati dan dibiarkan karatan berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri-sendiri. Yang terjadi kemudian, jama'ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan jelas, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU yang solid. Roda organisasi terkunci mati.
Wa ba'du, jam'iyyah ini sakit parah. Bukan main. Marwahnya hilang, arahnya pun tak jelas. Jangankan melayani jama'ah, menggerakkan roda organisasi dasar saja sudah tak sanggup. AD/ART yang seharusnya jadi pedoman, kini cuma jadi dokumen mati yang tak diindahkan.
Lihatlah yang terjadi:
Artikel Terkait
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru
Anies Baswedan dan Tiga Lapis Strategi Menuju 2029
Iran Tegas Tangani Perusuh, Unjuk Rasa Bergulir ke 45 Kota
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi