PBNU Mandek, Roda Organisasi Terkunci Konflik Internal

- Minggu, 23 November 2025 | 17:20 WIB
PBNU Mandek, Roda Organisasi Terkunci Konflik Internal

Matinya Roda Jam'iyyah Kami

Oleh: Gus Nadirsyah Hosen

Jam'iyyah ini berjalan terbalik, sungguh. Bayangkan saja: Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Tak cuma itu, hubungannya dengan Rais 'Am pun tidak akur. Sementara Rais 'Am sendiri konon tidak sreg dengan Katib 'Am yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum.

Akibatnya? Surat resmi Syuriyah cuma ditandatangani Rais 'Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan jelas mengharuskan empat tanda tangan: Rais 'Am, Katib 'Am, Ketum, dan Sekjen. Aturan dasar itu seolah tak ada artinya lagi.

Ini bukan sekadar organisasi macet. Lebih dari itu: mesinnya mati dan dibiarkan karatan berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri-sendiri. Yang terjadi kemudian, jama'ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan jelas, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU yang solid. Roda organisasi terkunci mati.

Wa ba'du, jam'iyyah ini sakit parah. Bukan main. Marwahnya hilang, arahnya pun tak jelas. Jangankan melayani jama'ah, menggerakkan roda organisasi dasar saja sudah tak sanggup. AD/ART yang seharusnya jadi pedoman, kini cuma jadi dokumen mati yang tak diindahkan.

Lihatlah yang terjadi:

  • Tagline ingin "menghidupkan kembali Gus Dur", tapi sikap kritis justru hilang entah ke mana.
  • Mengaku ingin "governing NU", sementara tata kelola PBNU sendiri remuk redam.
  • Bendera khittah dikibarkan, tapi malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
  • Mengaku berkhidmat untuk bangsa, eh malah gaduh sendiri soal tambang.
  • Bicara ingin membangun peradaban dunia, yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.

Satu Abad NU seharusnya jadi momen kejayaan. Nyatanya? Dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.

Pertanyaannya: sampai kapan kondisi jam'iyyah dibiarkan begini?

Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy'ari dan para muassis NU lainnya.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar