Jimly dan Mahfud MD Serahkan Gagasan Amandemen Kelima ke Megawati

- Jumat, 21 November 2025 | 20:25 WIB
Jimly dan Mahfud MD Serahkan Gagasan Amandemen Kelima ke Megawati
Jimly Serahkan Buku Amandemen Kelima ke Megawati

Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, Jimly Asshiddiqie, melakukan sebuah kunjungan. Ia menemui Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dengan membawa sebuah buku baru karyanya. Buku yang berjudul “Menuju Perubahan Kelima Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945” itu diserahkan langsung oleh Jimly kepada Megawati dalam pertemuan tersebut.

Menariknya, Jimly tidak datang sendirian. Mantan Menko Polhukam yang juga koleganya di Komisi Reformasi Polri, Mahfud MD, turut mendampingi dalam momen penyerahan buku ke-82 dari Jimly ini.

“Dengan ini saya persembahkan kepada Ibunda Megawati Soekarnoputri,” ujar Jimly sambil menyerahkan buku tersebut. Ia berharap buku itu bisa jadi bahan bacaan dan pemikiran untuk menata ulang sistem ketatanegaraan lewat amandemen kelima.

Jimly kemudian menjelaskan rencana besarnya. Tampaknya, setelah selesai mengurusi reformasi di tubuh Polri, perhatiannya akan beralih ke hal lain yang tak kalah penting. “Jadi maksudnya, Bu, habis kita ngurusin polisi, nanti kita membenahi yang lain-lain melalui perubahan kelima. Nanti materinya biar kami diskusikan,” jelasnya.

Lalu, apa saja yang akan dibenahi? Rupanya, banyak sekali. “Banyak, Bu. Termasuk MPR, DPR, DPD,” tambah Jimly, memberi gambaran bahwa lembaga-lembaga tinggi negara masuk dalam radar pembahasan.

Namun begitu, tanggapan Megawati justru mengungkap sesuatu yang lain. Menurutnya, gagasan untuk amandemen kelima UUD 1945 ini bukanlah hal yang baru baginya. Ia mengklaim dirinyalah yang lebih dulu menggagasnya, terutama untuk memperkuat posisi MPR RI.

“Kan (saya) minta untuk dinaikkan lagi MPR, tapi saya bilangnya hanya satu kali kita menaikkan MPR,” kenang Megawati. Lalu, dengan nada khasnya, ia menyelipkan kritik. “Nah, tapi yang protes sopo (siapa)? Abang Brewok. Katanya ‘kotak pandora’. Entah kotak pandora opo (apa),” pungkasnya, menyiratkan penolakan dari pihak tertentu terhadap gagasannya dulu.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar