Warga Ketapang Geger, WNA China Tertangkap Basah di Lokasi Tambang Emas Ilegal

- Jumat, 21 November 2025 | 11:40 WIB
Warga Ketapang Geger, WNA China Tertangkap Basah di Lokasi Tambang Emas Ilegal
Laporan dari Ketapang

Keheningan Desa Sungai Besar, di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, tiba-tiba terusik. Kemunculan sejumlah warga negara asing yang diduga berasal dari China di sebuah lokasi terpencil kembali memicu kegelisahan. Lokasi itu sendiri dicurigai kuat sebagai area tambang emas ilegal. Hal ini seperti membangkitkan hantu lama yang selama bertahun-tahun menghantui masyarakat di sini: praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang konon melibatkan tenaga asing.

Dalam sebuah rekaman video yang beredar, terlihat jelas seorang pria berkebangsaan asing, mengenakan pakaian kerja oranye yang mencolok, sedang asyik mengelas. Dia berdiri di atas tumpukan plat besi berukuran besar yang berserakan. Bahan-bahan itu, menurut para warga yang melihatnya, diduga adalah komponen utama untuk merakit peralatan tambang. Bisa untuk rangka mesin, atau mungkin perangkat penyaring material.

Tak hanya itu. Di sekeliling lokasi, alat berat dan mesin penyedot terlihat berdiri. Perlengkapan lain yang sangat identik dengan aktivitas tambang emas ilegal juga bertebaran. Pemandangan yang bagi warga setempat sudah terlalu biasa, tapi selalu bikin geram.

Namun begitu, kehadiran orang asing di tempat terpencil seperti ini menimbulkan sederet pertanyaan yang menggelitik. Bagaimana caranya mereka bisa masuk begitu dalam ke pedalaman tanpa ada yang tahu? Apakah ada backingan dari oknum tertentu yang melindungi operasi ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir, menambah kegusaran warga yang sudah lama merasakan dampak buruk PETI.

Aktivitas ini bukan cuma merampas kekayaan alam daerah. Mereka melihat sendiri bagaimana sungai-sungai yang dulu jernih kini keruh dan tercemar. Hutan yang menjadi paru-paru kehidupan terus tergerus. Ekosistem yang selama ini menjadi sumber penghidupan sehari-hari rusak tanpa ampun.

Fenomena PETI di Ketapang sebenarnya sudah seperti cerita yang tak pernah usai. Bukan isu baru. Aparat sudah berkali-kali melakukan penertiban, tapi kegiatan ini bagai jamur di musim hujan selalu tumbuh kembali. Banyak yang menduga, keberadaan WNA asal China ini bukanlah suatu kebetulan. Mereka sering dikaitkan dengan operasi tambang yang lebih terorganisir dan butuh keahlian teknis tertentu.

Di sisi lain, posisi masyarakat lokal kerap kali terasa menyedihkan. Hanya menjadi penonton yang tak berdaya, sekaligus korban utama dari kerusakan lingkungan yang ditinggalkan. Mereka yang hidupnya bergantung pada sungai dan hutan, harus menanggung beban terberat.

Harapan warga kini tertumpu pada aparat penegak hukum. Mereka mendesak agar pemerintah segera turun tangan, sebelum aktivitas ilegal ini makin menjadi-jadi. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan. Bukan hanya mengusir para pekerja di lapangan, tetapi juga menindak tegas aktor intelektual dan para cukong yang berada di belakang layar.

Kasus terbaru ini adalah pengingat yang nyata. Ancaman eksploitasi ilegal terhadap kekayaan alam di pedalaman Kalimantan Barat masih sangat hidup. Tanpa langkah strategis dan pengawasan yang ketat, yang hilang bukan cuma emas dari perut bumi. Masa depan lingkungan, serta keselamatan warga yang hidupnya bergantung pada tanah dan sungai, juga terus dikikis secara brutal.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar