Washington (SI Online) – CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, punya pesan penting buat para pengguna teknologi kecerdasan buatan atau AI. Menurutnya, jangan terlalu cepat percaya. AI masih rentan soal akurasi fakta, dan itu harus disikapi dengan bijak.
Dalam wawancara dengan BBC yang tayang Selasa lalu, Pichai menekankan pentingnya memanfaatkan beragam alat pencarian bukan cuma mengandalkan AI. Ia bilang, kalau untuk urusan kreatif seperti menulis, AI memang bisa membantu. Tapi ya itu, pengguna tetap harus punya kewaspadaan. "Harus belajar menggunakan alat ini untuk hal yang mereka kuasai, dan tidak mempercayai semua yang dikatakannya begitu saja," ujarnya.
Teknologi AI yang paling mutakhir sekalipun, kata dia, masih rawan bikin salah.
Peringatan ini muncul di saat Google bersiap meluncurkan model AI terbaru mereka, Gemini 3.0. Rencananya, asisten AI ini bakal dirilis pada akhir tahun ini.
Namun, Gemini sendiri sebenarnya bukan tanpa masalah. Sejak diluncurkan tahun 2023, model ini sudah dapat banyak kritik. Pengaturan 'keamanan' dan 'keragaman' yang diterapkan dinilai terlalu kaku, sampai-sampai menghasilkan gambar yang tidak akurat. Bahkan, banyak yang menertawakan karena Gemini salah menggambarkan berbagai tokoh sejarah mulai dari bapak pendiri Amerika, kaisar Rusia, hingga paus Katolik dan tentara Nazi Jerman.
Belum selesai dengan masalah itu, awal bulan ini Google kembali dituding diam-diam mengizinkan Gemini mengumpulkan data pengguna tanpa persetujuan. Ada gugatan hukum di pengadilan federal California yang menyebut bahwa perusahaan itu membiarkan asisten AI-nya menyadap komunikasi pribadi di layanan Gmail, obrolan, dan konferensi video.
Di sisi lain, perkembangan pesat teknologi AI memang telah mendongkrak valuasi di sektor ini. Tapi, banyak juga yang waswas. Di Silicon Valley dan sekitarnya, muncul peringatan soal potensi gelembung investasi. Perusahaan-perusahaan berlomba menghabiskan dana besar demi mengamankan posisi di industri yang sedang naik daun ini.
Persaingan pun semakin ketat. Raksasa teknologi seperti Google berusaha mengejar layanan semacam ChatGPT, yang sebelumnya sudah lebih dulu menantang dominasi mereka di dunia pencarian daring. Investasi di bidang AI pun kian digenjot.
Pengeluaran tahunan untuk AI di kalangan perusahaan teknologi besar diperkirakan mencapai $400 miliar. Saat ditanya apakah Google bakal aman jika gelembung AI meletus, Pichai menjawab dengan jujur: "Saya rasa tidak ada perusahaan yang akan kebal, termasuk kami."
Artikel Terkait
Siswi SMA Hilang Terseret Ombak di Tebing Pantai Apparalang Bulukumba
ICW Desak KPK Periksa Menteri Agus Andrianto dalam Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA
POPSI Kritik PP Nomor 24 Tahun 2026, Nilai Aturan Ekspor Sawit Berpotensi Tak Transparan dan Rugikan Petani
PSM Makassar Dikaitkan dengan Pemain Kroasia Ivan Šarić untuk Musim Depan