Bayangkan saja: 80.000 koperasi berarti 80.000 proyek pembangunan gedung, ditambah 80.000 pengadaan mobil. Wow, cuan deras! Urusan koperasi jalan atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting proyeknya jalan dan anggarannya cair. Mobilnya sudah dibeli, gedungnya dibangun. Selesai.
Padahal, kalau memang serius mau bikin koperasi, ya jalanin dulu bisnisnya. Gedung bisa numpang atau sewa. Mobil? Itu urusan kesekian. Tapi ini malah dibalik: sibuk urus proyek duluan, bisnisnya nanti-nanti. Mirip banget sama anak tadi yang mikirin laptop dulu, nulisnya belakangan.
Di sisi lain, masalah sebenarnya justru ada di kualitas SDM. Daripada sibuk bangun proyek fisik, mending tingkatkan mutu pendidikan. Dorong sekolah-sekolah agar meluluskan anak yang kompeten, biar mereka yang nanti berpikir bikin koperasi atau usaha lain. Tapi lucunya, selama 20 tahun terakhir, kualitas lulusan SMA/SMK justru turun. Dulu, lulusan SMA bisa langsung kerja di kantor. Sekarang? Lulusan S1 aja masih bingung.
Memang nasib. Di tengah kondisi SDM yang rendah, yang ada di kepala pejabat cuma proyek. MBG proyek. Sekolah Rakyat proyek. Koperasi Merah Putih juga proyek. Semuanya jadi proyek.
(Tere Liye)
Artikel Terkait
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat