Berkas Jeffrey Epstein Segera Dibuka, Tapi Mungkin Tak Lengkap
Presiden Donald Trump akhirnya menandatangani RUU yang memerintahkan pembukaan berkas investigasi Jeffrey Epstein. Langkah ini dinanti banyak pihak, tapi jangan berharap terlalu dulu. Sebab, dokumen yang dirilis nanti kemungkinan besar tidak akan utuh.
Menurut Reuters, berkas-berkas itu diharapkan bisa mengungkap lebih dalam soal aktivitas Epstein sebelum dia dihukum karena kasus prostitusi anak di tahun 2008. Jaksa Agung Pam Bondi sudah mengonfirmasi bahwa Kementerian Kehakiman punya waktu 30 hari untuk merilisnya. “Kami akan patuhi hukum dan usahakan transparansi seluas mungkin,” ujarnya.
Tapi, ya, ada tapinya. Kongres memberi ruang bagi Kementerian Kehakiman untuk menahan informasi tertentu. Misalnya, data pribadi korban atau dokumen yang bisa mengganggu penyelidikan yang masih berjalan.
Belum lama ini, Trump juga memerintahkan penyelidikan terhadap sejumlah tokoh Partai Demokrat yang dikaitkan dengan Epstein. Nah, informasi tentang mereka ini bisa saja tidak dibuka sama sekali.
Pengadilan sebelumnya sempat menolak permintaan Kementerian Kehakiman untuk membuka segel transkrip persidangan dewan juri yang menyelidiki Epstein dan rekannya, Ghislaine Maxwell. Alasan mereka klasik: khawatir mengganggu proses hukum.
Trump dan Epstein: Dari Sahabat ke Musuh?
Nama Trump sendiri tak lepas dari pusaran kasus Epstein. Ini jadi duri dalam daging bagi pemerintahannya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah New York pada 2022, Trump mengaku kenal Epstein sejak 1987. Dia bahkan menyebut Epstein sebagai pria “luar biasa”.
“Dia orangnya menyenangkan. Katanya dia suka perempuan cantik, ya kayak saya lah. Dan banyak yang masih muda. Jeffrey memang menikmati hidup,” kata Trump seperti dikutip Newsweek.
Tapi semua berubah setelah Epstein ditangkap pada Juli 2019. Trump bilang dia cuma kenal Epstein karena semua orang di Palm Beach juga kenal. Katanya, mereka sudah tidak berhubungan selama 15 tahun gara-gara ada “perselisihan”.
“Saya bukan penggemarnya, itu saja,” tegas Trump. Dia juga membantah Epstein pernah jadi anggota klub Mar-a-Lago miliknya.
Kilas Balik Kasus Epstein yang Penuh Misteri
Epstein dituduh mengeksploitasi anak muda bahkan yang di bawah umur dengan memanfaatkan rumah mewah dan pesawat pribadinya yang terkenal dengan sebutan “Lolita Express”. Di sana, dia kerap mengadakan pesta seks.
Salah satu korban yang paling vokal adalah Virginia Giuffre. Dia mengaku mengalami grooming dan pelecehan sejak remaja oleh Epstein.
Giuffre bercerita, dia pertama kali bertemu Maxwell saat bekerja sebagai asisten di ruang loker Mar-a-Lago. Maxwell lalu menawarkannya pekerjaan sebagai “terapis” untuk Epstein. Giuffre menduga dia dijual ke Epstein dan klien-kliennya.
“Saya dioper seperti piring buah,” kenangnya dengan getir.
Epstein meninggal di sel tahanan pada 10 Agustus 2019, tepat sebelum persidangannya dimulai. Pemeriksaan resmi menyatakan dia bunuh diri. Tapi, tentu saja, kematiannya masih menyisakan banyak tanda tanya.
Artikel Terkait
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan
Aktivis HAM Soroti Ironi Anggaran Negara Usai Tragedi Anak Meninggal karena Tak Mampu Beli Alat Tulis
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat