Selama ini, rezim Suriah di bawah Jaulani (Ahmad Al-Sharaa) telah menjadikan Amerika Serikat sebagai pihak wasit tidak resmi dalam konfliknya melawan Israel. Strategi ini tampaknya diambil dengan pertimbangan pragmatis. Alih-alih menjadikan AS sebagai musuh sepenuhnya, Suriah memilih untuk memanfaatkannya sebagai penengah, meskipun fungsinya dinilai sangat terbatas, mungkin hanya sekitar 30% efektif.
Pemimpin Suriah memahami bahwa Amerika Serikat bukanlah wasit yang netral dalam konflik ini. Namun, di sisi lain, mereka percaya bahwa AS masih memiliki kapasitas untuk memperlambat laju agresi Israel, walaupun pada akhirnya Washington dinilai tidak akan pernah memiliki kemauan politik yang tulus untuk menghentikan agresi tersebut secara permanen.
Oleh karena itu, Damaskus kini tampak sedang menguji dan memainkan kartu alternatif lain. Dalam konteks ini, upaya membujuk Rusia untuk berperan sebagai pasukan perdamaian atau penjaga perdamaian menjadi salah satu opsi. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin juga berada dalam situasi yang kompleks. Di satu sisi, ia tidak ingin kehilangan pijakan dan pengaruh militernya di Suriah secara keseluruhan. Di sisi lain, Moskow juga tidak ingin urusan di Suriah sampai mengalihkan fokus dan sumber daya yang saat ini terkonsentrasi pada invasi yang sedang berlangsung di Ukraina.
Artikel Terkait
Dibalik Pujian: Lelah yang Tak Terungkap dari Mahasiswa yang Bekerja
Kuda Andong Jatuh di Malioboro, Pengurus Bantah Tudingan Kelelahan
Gempa 6,5 Magnitudo Guncang Meksiko, Presiden Sheinbaum Batal Konferensi Pers
Misteri Kematian Satu Keluarga di Warakas: Polisi Periksa Enam Saksi