Kedatangan Misterius 153 Warga Palestina di Afrika Selatan: Kronologi, Biaya, dan Negara Tujuan

- Senin, 17 November 2025 | 15:24 WIB
Kedatangan Misterius 153 Warga Palestina di Afrika Selatan: Kronologi, Biaya, dan Negara Tujuan
153 Warga Palestina Tiba di Afrika Selatan Tanpa Dokumen - Kronologi dan Fakta

Kedatangan Misterius 153 Warga Palestina di Afrika Selatan Tanpa Dokumen Lengkap

Sebanyak 153 warga Palestina tiba di Bandara Internasional OR Tambo, Afrika Selatan, pada Kamis (13/11) tanpa dilengkapi dokumen perjalanan yang jelas. Kejadian ini memicu penyelidikan otoritas setempat. Dilaporkan, mereka sempat tidak diizinkan turun dari pesawat selama kurang lebih 12 jam oleh polisi perbatasan Afrika Selatan.

Penyebab penahanan tersebut adalah karena paspor mereka tidak memiliki cap keberangkatan resmi dari Israel. Pesawat charter yang mengangkut mereka dioperasikan oleh maskapai Global Airways dan melakukan transit di Nairobi, Kenya, sebelum akhirnya mendarat di Johannesburg.

Pernyataan Resmi Pemerintah Afrika Selatan

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyatakan akan menyelidiki asal-usul kedatangan rombongan warga Palestina ini. Dalam pernyataannya kepada para jurnalis, Ramaphosa menyampaikan kecurigaannya bahwa mereka mungkin diusir dari Jalur Gaza.

"Kami pasti akan menyelidiki asal usul mereka, dari mana awalnya, mengapa mereka dibawa ke sini. Karena mereka tidak memiliki dokumen apa pun," tegas Ramaphosa. Meski demikian, ke-153 warga Palestina tersebut akhirnya diterima di Afrika Selatan atas dasar kemanusiaan.

Kisah Perjalanan Warga Palestina dari Gaza

Kisah perjalanan mereka terungkap dari salah seorang penumpang, Loay Abu Saif, yang bepergian bersama istri dan anaknya. Abu Saif mengaku tidak mengetahui bahwa tujuan akhir mereka adalah Afrika Selatan. Menurut pengakuannya, militer Israel memfasilitasi keberangkatan mereka melalui bandara di Israel.

Abu Saif baru menyadari bahwa pesawat akan menuju Johannesburg saat akan melanjutkan penerbangan dari Nairobi. Keluarganya mendaftar perjalanan ini melalui sebuah lembaga nirlaba bernama Al-Majd Europe yang berkantor pusat di Jerman dan memiliki kantor perwakilan di Yerusalem. Lembaga ini membuka pendaftaran via media sosial.

Setiap peserta dikenakan biaya antara 1.400 hingga 2.000 Dolar AS per orang, termasuk untuk bayi dan anak-anak. Sebelum berangkat, mereka hanya diizinkan membawa dokumen relevan tanpa koper pribadi. Mereka diangkut dengan bus dari Rafah menuju Bandara Ramon Israel melalui titik pemeriksaan Karem Abu Salem.

Rencana Selanjutnya dan Kemungkinan Tujuan Negara Lain

Menurut Abu Saif, lembaga Al-Majd Europe hanya akan memberikan bantuan selama satu hingga dua minggu, setelah itu mereka harus mandiri. Namun, sekitar 30 persen dari penumpang lainnya dikabarkan telah memiliki dokumen untuk melanjutkan perjalanan ke negara lain seperti Australia, Indonesia, atau Malaysia.

Alasan utama mereka meninggalkan Gaza adalah karena perhitungan biaya hidup di negara tujuan dinilai lebih terjangkau dibandingkan di Gaza, selain juga untuk mendapatkan akses perawatan kesehatan yang lebih baik.

Informasi mengenai rencana sebagian warga Palestina untuk masuk ke Indonesia masih dalam proses pengecekan kebenarannya oleh pihak berwenang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar