Harga Beras Naik 2 Kali Lipat Sejak 2013: Indikator Inflasi Riil yang Tak Bisa Dimanipulasi

- Minggu, 16 November 2025 | 15:40 WIB
Harga Beras Naik 2 Kali Lipat Sejak 2013: Indikator Inflasi Riil yang Tak Bisa Dimanipulasi
Harga Beras: Indikator Inflasi Riil yang Lebih Jujur dari Data Resmi

Harga Beras: Pengukur Inflasi yang Paling Jujur bagi Rakyat

Memahami kondisi ekonomi riil suatu negara ternyata tidak memerlukan analisis data yang kompleks. Cukup dengan mengamati satu indikator kunci: harga beras. Komoditas pokok ini menjadi barometer ekonomi yang paling transparan dan sulit dimanipulasi.

Mengapa Harga Beras Menjadi Indikator Penting?

Beras merupakan kebutuhan primer yang dikonsumsi oleh hampir seluruh penduduk. Kenaikan harganya berdampak langsung pada daya beli masyarakat, upah pekerja, tingkat konsumsi, hingga stabilitas sosial. Berbeda dengan data statistik lain, harga beras sulit direkayasa dengan narasi politik karena mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya.

Perbandingan Harga Beras 2013 vs 2025: Inflasi yang Sesungguhnya

Dengan menggunakan tahun 2013 sebagai patokan atau benchmark, bukan perhitungan year-on-year yang sering menyesatkan, kita dapat melihat gambaran inflasi struktural yang lebih nyata:

  • Harga beras tahun 2013: Rp 7.300 - Rp 7.500 per kilogram
  • Harga beras tahun 2025: Rp 14.000 - Rp 17.000 per kilogram (kualitas medium)
  • Kesimpulan: Dalam kurun 12 tahun, harga beras mengalami kenaikan sekitar dua kali lipat

Fakta ini bertolak belakang dengan klaim inflasi resmi pemerintah yang hanya sekitar 3-5% per tahun. Perhitungan matematis sederhana menunjukkan ketidaksesuaian antara data resmi dengan realita di lapangan.

Alasan Tahun 2013 Menjadi Patokan yang Valid

Tahun 2013 dipilih sebagai baseline karena merupakan periode sebelum terjadinya berbagai gejolak ekonomi signifikan seperti depresiasi rupiah besar-besaran, pencabutan subsidi energi, pelemahan fiskal struktural, peningkatan impor pangan, dan berbagai krisis global berlapis. Tahun ini merepresentasikan kondisi stabilitas ekonomi terakhir yang dapat dijadikan acuan normal.

Kelemahan Perhitungan Inflasi Year-on-Year

Metode perhitungan inflasi year-on-year (YoY) hanya membandingkan harga saat ini dengan harga 12 bulan sebelumnya. Metode ini memiliki kelemahan fundamental:

  • Jika harga pada tahun sebelumnya sudah tinggi, maka inflasi terlihat kecil
  • Masyarakat sebenarnya sudah lama hidup dengan harga tinggi
  • Lonjakan harga jangka panjang menjadi kabur

Contoh ilustrasi:

  • Tahun 2013: Beras Rp 7.500/kg
  • Tahun 2024: Beras Rp 15.000/kg
  • Tahun 2025: Beras Rp 16.000/kg

Secara YoY, inflasi 2025 hanya 2-3%. Namun secara riil, harga telah naik 110% sejak 2013. Analoginya seperti mendaki gunung setinggi 3.000 meter, lalu diberitahu bahwa kenaikan terakhir hanya 50 meter. Memang benar, tapi pendaki sudah kehabisan napas sejak lama.

Ekonomi Riil vs Data Statistik

Ekonomi yang sehat seharusnya diukur dari tiga parameter dasar:

  1. Seberapa besar kenaikan biaya hidup masyarakat (beras, telur, minyak, listrik, transportasi)
  2. Seberapa besar kenaikan pendapatan riil masyarakat (upah, pendapatan petani, pekerja informal)
  3. Apakah kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran semakin melebar?

Ketika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada pendapatan, maka terjadi inflasi kesejahteraan negatif yang tidak tercermin dalam data statistik resmi.

Ekonomi bukan sekadar angka-angka dalam presentasi, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan ibu rumah tangga saat membeli beras, sopir ojek saat membeli BBM, petani saat menjual gabah, dan anak-anak saat makan sehari-hari. Selama harga beras terus naik lebih cepat daripada pendapatan riil masyarakat, inflasi sesungguhnya tetap tinggi meskipun grafik pemerintah menunjukkan angka yang berbeda.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar