“Setelah gencatan senjata, kemudian seluruh tenaga medis, pasien, dan warga yang tinggal di RS Indonesia itu dipaksa untuk dievakuasi. Jadi sebagian dievakuasi ke selatan, ada yang ke tengah, ada di utara seperti di Yaman,” jelasnya
“Kemudian, praktisnya, RS Indonesia ini kosong, meninggalkan luka yang begitu serius, kita tahu lantai 3, lantai 4 maupun peralatan medis pada berantakan, kemudian di depan rumah sakit ada buldoser-buldoser, sehingga akses ke sana sulit dan belum lagi dipagar Israel, sehingga RS kosong,” lanjutnya.
Menurut Sarbini kekosongan itu lalu dimanfaatkan oleh Israel yang menempatkan pasukan militernya di RSI, guna menghindari diri dari serangan Hamas.
Baca Juga: Grace Natalie Sebut Gibran Rakabuming Tak Akan Serang Cawapres Lain: Kami Harap Paslon Lain Juga…
"Sekitar dua minggu yang lalu sampai dengan hari ini, Israel menempatkan pasukannya, tempat berlindung dan markasnya, itu di Rumah Sakit Indonesia yang dulu tanggal 6 (November) mereka menuduh bahwa di situ adalah markas Hamas dan ada orang Hamas di situ,” katanya
“Nah, sekarang mereka melakukan menempatkan pasukan itu sebagai perisai dari serangan Hamas,” lanjutnya.
Sarbini mengungkapkan Israel gagal menaklukkan Gaza utara sehingga tidak ada tempat aman bagi militernya untuk bersembunyi, berlindung, dan melakukan koordinasi, sehingga menjadikan RSI sebagai perisai dengan harapan supaya Hamas tidak menyerangnya
“Jadi mereka (Israel) telah melakukan ini sebagai perisai, dan harapan mereka (Israel) bahwa Hamas akan ragu atau tidak mungkin menyerang ke tempat perlindungan Israel di RS Indonesia,” ungkapnya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: kilat.com
Artikel Terkait
Rusia Klaim Tumbangkan F-16 Ukraina dengan Rudal S-300
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Waspadai Perburuan Pasca Penangkapan Maduro
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Situasi Keamanan Dinilai Memuncak
Latihan Militer Tiga Negara di Afrika Selatan: Sinyal di Tengah Gejolak Global