Zaur Shug, koresponden Aljazeera dari Moskow, memperkuat narasi ini. Katanya, pengiriman militer Rusia nyaris tiap pekan datang ke Iran. Media-media internasional pun sudah beberapa bulan belakangan memberitakan kemitraan strategis kedua negara yang kian erat, terutama pasca-eskalasi terkini.
Eskalasi itu sendiri merujuk pada serangan Israel dengan dukungan AS pada 13 Juni 2025. Konflik selama dua belas hari itu menargetkan lokasi militer, nuklir, hingga fasilitas sipil Iran. Balasannya, Iran meluncurkan rudal dan drone ke markas militer serta intelijen Israel.
Manuver dan Pesan Politik
Dan kini, di tengah arus pengiriman senjata itu, Iran bersiap menggelar latihan militer bersama Rusia dan China. Namanya manuver "Sabuk Keamanan", sebuah latihan laut berkala. Tapi timing-nya kali ini terasa berbeda. Penuh makna. Baik secara politik maupun militer.
Jadi, dari kuburan massal yang sudah disiapkan di tepi kota, hingga latihan perang di laut, semuanya seperti bagian dari sebuah drama ketegangan yang masih berlanjut. Persiapan untuk skenario terburuk, atau sekadar pesan yang ingin didengar oleh dunia? Mungkin keduanya.
Artikel Terkait
Iran Perkuat Armada Drone, AS Siagakan Pasukan di Ambang Ketegangan
Iran Ancam Hantam Jantung Tel Aviv Jika AS Berani Serang
Ledakan di Teheran Bukan Serangan, Tapi Ketegangan AS-Iran Makin Menderu
Latihan Tembak Iran dan Manuver AS: Selat Hormuz Kembali Jadi Ajang Adu Kekuatan