Proses produksi yang siap dimulai dalam waktu dekat merupakan tindak lanjut setelah kesepakatan akuisisi terjalin akhir tahun 2020 lalu
Berdasarkan perjanjian yang disepakati, kedua negara tak hanya sekedar melaksanakan proses produksi komponen sistem peluru kendali pada rudal anti tank SPIKE.
Ada proses transfer of technology antara kedua belah pihak yang memiliki manfaat dalam jangka panjang.
Thailand sendiri akan menjadi tempat produksi dua varian SPIKE yakni SPIKE Non-Line-of-Sight (NLOS) dan SPIKE Extended Range (ER).
Perlu diketahui bahwa kerja sama ini merupakan fase pertama, dan akan berlanjut ke fase berikutnya jika berhasil.
Akan tetapi, itu semua tergantung pada kondisi Angkatan Bersenjata Thailand yang memperoleh lebih banyak sistem peluru kendali.
"Jika kerja sama pada fase pertama berhasil, kami akan melanjutkan ke fase kedua, di mana kami akan lebih meningkatkan transfer teknologi dan produksi," kata salah satu pejabat senior DTI sebagaimana dikutip murianetwork.com dari laman Defence Security Asia pada Minggu, 21 Januari 2024.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: zonajakarta.com
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April