Ujarnya. Menurut Orban, pertemuan yang didominasi kekuatan besar seperti Prancis dan Jerman itu sudah tak membahas perdamaian. Pembicaraan berpusat pada cara menaklukkan Rusia, memaksa Moskow bayar ganti rugi, dan menyita aset miliaran dolar yang dipakai untuk perang Ukraina.
"Mereka bukanlah anak-anak yang duduk di sana," tuturnya. Alokasi dana dan militer saat ini, dalam pandangannya, adalah langkah awal menuju konflik global yang lebih luas.
Soal sikap Hongaria, Orban bersikap jelas. Dia bersumpah pemerintahannya akan menutup pintu sekuat tenaga. Tak akan ada pengiriman tentara atau uang ke garis depan perang dari negaranya.
Bantahan Keras dari Brussels
Namun begitu, klaim Orban langsung dibantah habis oleh para pejabat Uni Eropa di Brussels. Mereka menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi yang dimaksud sama sekali bukan untuk persiapan perang. Fokusnya adalah langkah-langkah keamanan defensif yang tetap mengedepankan nilai kemanusiaan.
Mereka menilai Orban sengaja melukiskan Eropa sebagai entitas yang haus perang. Narasi seperti itu, menurut mereka, hanya menguntungkan Moskow dan sekaligus memperkuat dukungan domestik untuk dirinya sendiri. Sang perdana menteri seolah memposisikan diri sebagai benteng terakhir yang melawan arus benua menuju kehancuran.
Kritik juga datang soal waktu pernyataannya. Pemilihan parlemen Hongaria dijadwalkan pada April 2026. Para pengamat mempertanyakan, apakah pernyataan provokatif ini sekadar bagian dari manuver politik menjelang pemilu? Terlebih, pernyataan itu muncul di saat ketegangan global memang sedang memuncak: perang Ukraina yang berkepanjangan dan kontroversi Trump terkait Greenland.
Jadi, mana yang benar? Siapakah yang sebenarnya sedang mempersiapkan perang? Jawabannya masih terselubung di balik retorika dan kepentingan masing-masing pihak.
Artikel Terkait
Zeitenwende: Jerman Bangkitkan Kembali Raksasa Militer di Tengah Keretakan NATO
Tabrakan Maut Kereta Cepat Spanyol: 21 Tewas dalam Malam Nestapa Andalusia
Bayar Duka di Garis Depan: Trauma dan Cedera Moral Melanda Tentara Israel Usai Dua Tahun Perang Gaza
Wanita Turki Klaim Diri Anak Donald Trump, Desak Tes DNA untuk Buktikan