Suasana di Iran makin mencekam. Di tengah gelombang unjuk rasa yang tak kunjung reda, Kedutaan Besar Amerika Serikat yang beroperasi secara virtual karena tak punya kantor fisik di sana mendesak warganya untuk segera angkat kaki dari negara itu. Seruan itu keluar Senin lalu, dan nuansanya terasa mendesak. Bukan tanpa alasan. Ancaman serangan AS menggantung, sebagai respons atas demonstrasi besar yang telah berlangsung hampir dua pekan.
Peringatannya jelas: pergi sekarang juga. Bagi yang terpaksa bertahan karena satu dan lain hal, imbauannya lebih spesifik. Mereka harus mencari tempat aman, mengumpulkan stok makanan, air, dan obat-obatan. Persiapan untuk hal terburuk.
"Warga AS harus mengantisipasi pemadaman internet berkelanjutan, merencanakan cara komunikasi alternatif, dan, jika aman untuk melakukannya, mempertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat ke Armenia atau Turki,"
Begitu bunyi pernyataan resmi yang dikutip media. Nada pesannya tegas, bahkan terkesan sedikit putus asa. Pemerintah AS seolah tak ingin warganya bergantung pada bantuan mereka. Pesan intinya: urus sendiri keselamatanmu, dan jangan harap kami bisa menyelamatkanmu nanti.
Di sisi lain, mereka juga meminta warganya untuk menjauhi lokasi demonstrasi. Jangan coba-coba terlibat, apalagi mendekat. Tetap tenang, waspada, dan siap siaga.
Latar belakang dari semua ini tentu saja situasi politik yang memanas. Presiden Donald Trump sebelumnya sudah mengeluarkan ancaman. Jika korban di antara para demonstran terus berjatuhan, serangan militer AS bukan hal yang mustahil. Ancaman itu bukan omong kosong, dan tampaknya sedang dipertimbangkan serius.
Lalu, berapa sebenarnya korban yang telah jatuh? Angkanya simpang siur. Beberapa lembaga HAM internasional menyebut ratusan orang tewas. Tapi PBB, meski mengakui ada korban jiwa, belum bisa memastikan jumlah pastinya.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengaku pihaknya masih bisa berkomunikasi dengan rekan di lapangan. Namun verifikasi data sulit dilakukan.
"Kami tidak memiliki angka pasti yang bisa diverifikasi, tetapi jelas bagi kami bahwa sejumlah orang, sejumlah warga sipil, telah tewas," ujarnya.
Sementara itu, sebuah sumber dari dalam pasukan keamanan Iran punya angka yang lebih mengerikan. Menurutnya, lebih dari 500 orang telah meninggal sejak kerusuhan pecah. Korban itu termasuk 110 aparat polisi dan anggota Garda Revolusi.
Semua ini berawal dari krisis ekonomi. Demonstrasi pertama meletus pada 28 Desember tahun lalu, dipicu inflasi yang meroket dan melemahnya nilai tukar Rial. Rakyat geram karena harga-harga melambung tak terkendali. Tekanan itu bahkan memaksa Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, mundur dari jabatannya.
Keruhnya situasi makin menjadi setelah Reza Pahlavi putra mantan Syah Iran ikut bersuara. Sejak 8 Januari, aksi protes makin intens. Pemerintah merespons dengan cara yang kini jadi langganan: memblokir akses internet. Dunia luar pun kesulitan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April