Menurut Rodríguez, serangan ini bukanlah hal yang mendadak. “Kami sudah memperingatkan bahwa agresi sedang berlangsung dengan dalih dan kedok palsu,” katanya. Topeng itu kini terlepas, dan tujuannya hanya satu: menggulingkan pemerintahan yang sah di Caracas. Ia yakin motif di baliknya adalah kekayaan alam Venezuela yang melimpah.
“Perubahan rezim ini juga akan memungkinkan perebutan energi, mineral, dan sumber daya alam kita,” lanjut Rodríguez. “Inilah tujuan sebenarnya.”
Namun begitu, di tengah kecaman kerasnya, Rodríguez masih menyisakan ruang untuk diplomasi. Ia menyatakan Venezuela tetap membuka pintu dialog dengan Amerika Serikat. Syaratnya jelas: hubungan itu harus dibangun dengan dasar saling menghormati, dan yang terpenting, kedaulatan Venezuela tidak boleh diganggu gugat.
Pidato itu jelas sebuah penolakan. Sekaligus pengingat bahwa krisis politik ini masih jauh dari kata selesai.
Artikel Terkait
Pesan Rahasia Trump ke CEO Minyak: Bersiaplah Sebelum Serangan ke Venezuela
Siulan Maut di Malam Venezuela: Kisah Prajurit yang Terpental oleh Ledakan
Miliarder Dubai Tersentak: Atas Nama Apa AS Berani Tangkap Presiden Negara Berdaulat?
Kuba Siap Berdarah-darah Tolak Intervensi AS di Venezuela