Kehebohan melanda panggung politik internasional Sabtu lalu (3/1/2025). Kabar yang sulit dipercaya itu datang dari mantan Presiden AS, Donald Trump: Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, diklaim telah ditangkap oleh pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, dalam sebuah operasi militer besar-besaran.
Klaim ini tentu saja langsung memicu gelombang spekulasi. Bagaimana mungkin seorang kepala negara yang masih aktif berkuasa bisa diamankan oleh pasukan asing? Sampai saat ini, pemerintah di Caracas masih bungkam, belum ada konfirmasi resmi yang keluar.
Menurut sejumlah saksi, terdengar ledakan di Caracas sekitar pukul dua pagi waktu setempat. Ini sedikit banyak menguatkan narasi bahwa memang ada operasi militer yang terjadi. Namun begitu, status dan lokasi Maduro masih menjadi tanda tanya besar.
Trump sendiri yang pertama kali menyulut kontroversi ini. Melalui unggahan di Truth Social, ia dengan gamblang menyebut operasi tersebut.
“Maduro dan istrinya ditangkap dan dikeluarkan dari negara itu setelah operasi penyerangan, dan dalam koordinasi dengan otoritas penegak hukum AS,”
katanya. Dalam wawancara terpisah dengan New York Times, ia bahkan menyebut operasi itu "brilian", hasil dari perencanaan yang matang dalam waktu lama.
Di sisi lain, akun Facebook resmi Maduro justru mengunggah sebuah video. Dalam video yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol itu, disebutkan adanya serangan di wilayah Miranda, Aragua, dan La Guaira. Pihaknya menegaskan bahwa AS tidak akan berhasil menguasai sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineralnya. Narasi ini sejalan dengan pernyataan Maduro sebelumnya yang telah memerintahkan mobilisasi pasukan dan menyatakan darurat nasional untuk menghadapi ancaman eksternal.
Pernyataan keras juga datang dari Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christopher Landau, lewat akun X-nya. Ia menulis, “Maduro akhirnya menghadapi keadilan atas kejahatannya.” Tuduhan ini bukan hal baru. Trump sudah berkali-kali melontarkan ancaman, bahkan mendesak Maduro turun dari kursi kekuasaan sejak akhir Desember lalu, sambil menuduhnya terlibat bisnis narkotika tuduhan yang selalu dibantah keras oleh Venezuela.
Lalu, siapakah sebenarnya Delta Force yang disebut-sebut sebagai pelaku operasi ini?
Unit dengan nama resmi 1st Special Forces Operational Detachment-Delta ini memang legendaris. Mereka adalah ujung tombak paling rahasia dan elit dari Angkatan Darat AS, berada langsung di bawah kendali Joint Special Operations Command. Tugas utama mereka? Kontraterorisme dan pembebasan sandera. Anggotanya direkrut dari kesatuan-kesatuan pilihan seperti Ranger dan Special Forces Groups, bahkan ada yang dari CIA.
Proses seleksinya terkenal sangat ketat. Konon, calon anggotanya harus menjalani karantina latihan selama enam bulan. Materinya berat, mulai dari menembak jitu, bahan peledak, hingga teknik penyergapan. Uniknya, ada satu skill yang mungkin terdengar sepele tapi wajib dikuasai: membuka gembok. Ya, mereka harus lihai membuka segala jenis kunci, dari kunci mobil sampai brankas.
Delta Force bukan unit baru. Mereka sudah berdiri sejak 1970-an. Tapi detail misi mereka hampir selalu tertutup rapat dari publik. Ciri khas lainnya? Mereka jarang sekali memakai seragam militer lengkap. Saat bertugas, penampilan preman lebih sering dipilih. Kalau pun pakai seragam, hampir tidak pernah ada patch nama atau lambang kesatuan. Tujuannya jelas: menjaga kerahasiaan identitas sampai tingkat tertinggi.
Sampai sekarang, situasinya masih berkembang. Dunia menunggu konfirmasi resmi dari Caracas. Satu hal yang pasti, klaim Trump ini telah membuka babak baru yang sangat tegang dalam hubungan AS-Venezuela, dengan Delta Force sebagai nama samar yang muncul di balik layar.
Artikel Terkait
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer
Obama Tegaskan Tak Ada Bukti Kunjungan Alien ke Bumi Saat Ia Presiden
Lima Negara NATO Tuduh Rusia Racun Navalny dengan Epibatidine