Bayangkan tinggal di suatu tempat yang hampir tak pernah diganggu gemuruh gempa atau amukan banjir. Bagi kita di Indonesia, yang akrab dengan getaran bumi dan curah hujan tinggi, itu mungkin terdengar seperti mimpi. Tapi ternyata, beberapa negara di dunia ini memang diberkahi kondisi alam yang begitu bersahabat.
Indonesia, seperti kita tahu, punya segalanya. Tiga lempeng tektonik besar saling bertemu di sini, Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Gesekan mereka tak jarang melahirkan gempa, atau bahkan memicu tsunami. Belum lagi gunung-gunung api yang aktif dan curah hujan yang kerap membanjiri wilayah. Intinya, kita hidup di kawasan yang dinamis, pengejewantahan dari "ring of fire".
Namun begitu, peta risiko bencana dunia tidaklah seragam. Ada sejumlah negara yang catatannya jauh lebih hijau, hampir bebas dari ancaman alam besar. Menurut laporan World Risk Index 2025 dan sejumlah kajian lain, inilah beberapa di antaranya.
Negara-Negara dengan Risiko Bencana Alam Terendah
Monako
Posisi puncak ditempati Monako. Negara mungil di pesisir Mediterania ini punya risiko banjir yang sangat rendah, dan sama sekali tak punya gunung api atau jalur siklon. Jumlah penduduknya sekitar 38 ribu jiwa. Letaknya yang diapit laut dan Pegunungan Alpen memberinya perlindungan alami. Mereka juga tak main-main soal infrastruktur; sistem drainasenya dirancang matang dan bangunannya dibikin tahan gempa, meski ancamannya kecil.
Andorra
Selanjutnya ada Andorra. Negeri ini bersembunyi nyaman di tengah Pegunungan Pirenia, perbatasan Prancis dan Spanyol. Posisinya yang tinggi dan terkurung daratan itu melindunginya dari tsunami atau banjir besar. Tapi, hidup di pegunungan punya konsekuensi sendiri. Risiko tanah longsor atau longsoran salju masih mengintai di sana.
San Marino
San Marino, negara republik tertua dan salah satu yang terkecil di dunia, juga masuk daftar. Dikelilingi Italia dan berdekatan dengan Laut Adriatik, wilayahnya relatif tenang. Gempa bumi jarang, tsunami pun hampir tak mungkin mencapai daratannya yang terletak di sisi timur Pegunungan Apennini.
Luksemburg
Luksemburg aman dari bencana terkait air karena ia negara pedalaman. Tak ada laut yang mengelilingi, jadi ancaman tsunami bisa diabaikan. Stabilitas alamnya menjadikannya salah satu kawasan teraman di Eropa.
Sao Tome dan Principe
Nah, ini menarik. Sebuah negara kepulauan di Teluk Guinea, Afrika Tengah. Letaknya di atas Lempeng Afrika yang stabil, sehingga aktivitas seismiknya minim. Tapi sebagai negara pulau, mereka tetap waspada pada banjir pesisir dan kenaikan permukaan air laut.
Singapura
Kita kenal baik dengan tetangga ini. Dibandingkan Indonesia atau Malaysia, Singapura sangat jarang dilanda bencana alam besar. Posisinya terlindungi oleh daratan Malaysia dan pulau-pulau di sekitarnya, seperti Batam, sehingga gelombang tsunami sulit mencapainya. Getaran gempa dari wilayah lain kadang terasa, tapi hanya goyangan kecil.
Liechtenstein
Mirip dengan Luksemburg, Liechtenstein terkurung daratan di antara Austria dan Swiss. Tsunami? Tidak relevan. Tapi mereka bukan tanpa pengalaman gempa. Gempa terkuat yang tercatat terjadi pada 1976, berkekuatan 6.5 magnitudo. Jadi, meski risikonya rendah, bukan berarti nol sama sekali.
Belarus
Belarus terletak di Craton Eropa Timur, bagian tua Lempeng Eurasia yang relatif tenang. Data seismiknya menunjukkan, dalam sepuluh tahun terakhir hanya satu gempa di atas magnitudo 4 yang tercatat, tepatnya pada Mei 2023. Angka yang sangat rendah.
Bahrain
Negara kepulauan di Teluk Persia ini terlindungi oleh daratan Arab Saudi dan Iran. Posisinya membuatnya kebal dari tsunami. Secara tektonik, ia berada di Lempeng Arab yang stabil. Ancaman terbesarnya justru dari cuaca ekstrem, seperti gelombang panas dan kekeringan yang pernah mereka alami.
Qatar
Terakhir, Qatar. Negara ini beruntung secara geografis. Jauh dari jalur siklon tropis dan patahan lempeng besar. Alhasil, mereka bebas dari gempa signifikan dan aktivitas vulkanik. Lingkungannya relatif aman dan bisa diprediksi.
Jadi, itulah sepuluh negara yang dianggap paling aman dari amukan alam. Tentu, "aman" di sini bukan berarti tanpa risiko sama sekali. Hanya saja, frekuensi dan skala ancamannya jauh lebih kecil dibandingkan tempat-tempat seperti Indonesia. Sebuah keberuntungan geologis yang membuat hidup di sana mungkin terasa lebih tenang.
Artikel Terkait
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik