Adat Toraja Bukan untuk Hukum: Dr. Ongen Jelaskan Filosofi Cinta & Memaafkan

- Sabtu, 08 November 2025 | 22:50 WIB
Adat Toraja Bukan untuk Hukum: Dr. Ongen Jelaskan Filosofi Cinta & Memaafkan
Hakikat Adat Toraja: Untuk Merangkul, Bukan Menghukum - Pandangan Dr. Ongen

Hakikat Adat Toraja: Untuk Merangkul dan Menyembuhkan, Bukan Menghukum

Akademisi asal Toraja, Dr. Y. Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, menegaskan bahwa esensi dari adat Toraja bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk merangkul dan menyembuhkan. Pernyataan ini disampaikannya sebagai respons atas polemik yang melibatkan komika Pandji Pragiwaksono, yang dianggap menyinggung tradisi Rambu Solo'.

"Adat Toraja itu penuh kasih, tidak otoriter. Kalau Pandji benar-benar memahami adat Toraja, dia pasti tidak akan melakukannya. Tapi dia sudah meminta maaf, dan sebagai anak Toraja, saya maafkan. Denda adat itu tidak perlu," jelas Ongen dalam keterangan tertulisnya.

Dia menekankan bahwa fondasi adat Toraja sejatinya adalah nilai cinta kasih dan kehormatan, bukan dendam atau kemarahan. Semangat leluhur Toraja yang diwariskan melalui sistem "adat lembang" mengajarkan keseimbangan dan penghormatan antar sesama manusia.

Nilai Memafkan dalam Adat Toraja

Ongen menambahkan bahwa ketika seseorang telah meminta maaf, nilai tertinggi yang harus ditunjukkan adalah memaafkan. "Itu kehormatan orang Toraja yang sesungguhnya," ujarnya. Dia mengingatkan bahwa jika adat digunakan sebagai alat untuk menghukum, hal itu justru berisiko menimbulkan persepsi negatif terhadap budaya Toraja di mata publik.

"Kalau kita kehilangan cinta, maka adat kehilangan maknanya. Adat itu bukan alat untuk mempermalukan, tapi untuk memperbaiki," tegas Ongen.

Momentum Edukasi Budaya Toraja

Lebih lanjut, Ongen menilai bahwa polemik ini seharusnya dapat dijadikan sebagai momentum untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur adat Toraja kepada khalayak yang lebih luas. Menurutnya, adat Toraja mengandung filosofi spiritual yang dalam tentang kasih sayang, persaudaraan, dan keseimbangan hidup.

"Toraja itu cinta, bukan amarah. Mari tunjukkan bahwa kita adalah masyarakat yang memuliakan tamu, memahami perbedaan, dan tidak menghakimi," ajaknya.

Ongen menutup pernyataannya dengan ajakan reflektif bagi generasi muda Toraja untuk menjadikan momen ini sebagai sarana edukasi budaya yang positif. "Kalau hanya melihat adat dari upacara, orang hanya tahu kulitnya. Tapi kalau kita tunjukkan nilai kasih yang menjadi ruhnya, dunia akan jatuh cinta pada Toraja," pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar