Persidangan perebutan hak asuh anak antara Ruben Onsu dan Sarwendah yang akan digelar pekan depan diprediksi berlangsung panas. Pihak Sarwendah dikabarkan menyiapkan strategi untuk membeberkan aib masa lalu Ruben di depan majelis hakim. Namun, ancaman itu tidak membuat Ruben gentar. Kuasa hukumnya, Minola Sebayang, justru melontarkan reaksi menohok.
Minola Sebayang merasa aneh dengan narasi aib yang terus diembuskan pihak lawan. Ia mempertanyakan mengapa ancaman itu baru muncul ketika Ruben mulai memperjuangkan hak asuh anak.
"Kenapa nggak pada waktu ada gugatan perceraian kamu buka aibnya? Kenapa ketika waktu kita bicara tentang Akta 39 (soal harta dan nafkah), kenapa nggak di situ bicara tentang aib? Di situ kamu oke kok, semua pihak oke," tantang Minola saat ditemui di kantornya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).
Menurut Minola, kemunculan isu aib saat ini terkesan seperti upaya menghalangi langkah Ruben mendapatkan hak berkumpul bersama anak-anaknya. "Kenapa sekarang ketika Ruben ingin berjuang untuk mendapatkan hak berkumpul bersama anak-anaknya, semuanya bicara aib? Kan ini yang nggak fair," tegasnya.
Ogah Saling Mempermalukan
Ruben Onsu sendiri dikabarkan enggan membalas dengan cara serupa. Menurut Ruben, saling membongkar aib hanya akan meninggalkan luka dan rasa malu bagi anak-anak mereka di masa depan. "Tujuannya apa? Kecuali satu, anak-anak akan jadi malu. Ternyata dia punya orang tua yang tidak sempurna, baik ayah maupun ibunya. Apakah ini yang mau dipertontonkan hanya gara-gara untuk mempertahankan sebuah ego?" kata Minola menirukan pesan Ruben.
Minola yakin majelis hakim yang memimpin persidangan akan bersikap objektif dan menggunakan hati nurani mereka sebagai orang tua. "Majelis hakim pasti semuanya sudah berumah tangga. Jikalau laki-laki pasti dia seorang ayah, jika wanita pasti dia seorang ibu. Mereka memiliki sense of sensibility untuk menilai mana yang benar-benar demi kepentingan anak, bukan sekadar ancaman buka aib," pungkasnya.
Sementara itu, melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, pihak Sarwendah mengisyaratkan bahwa mereka menyimpan fakta-fakta krusial yang selama ini sengaja tidak dibuka ke publik. Fakta "rahasia" ini diklaim akan membuat duduk perkara pengasuhan anak-anak mereka menjadi terang benderang di hadapan hakim.
"Beberapa hal sangat penting akan kami sampaikan nanti di Pengadilan. Hal penting tersebut sebelumnya belum pernah kami sampaikan di media," tegas Chris Sam Siwu melalui pesan singkat kepada awak media, Kamis (2/7/2026).
Alih-alih merasa tertekan dengan gugatan Ruben, pihak Sarwendah justru mengaku sangat menantikan momen pertemuan di meja hijau. Chris menekankan bahwa pengadilan adalah tempat terbaik untuk membuktikan kebenaran secara utuh, bukan melalui penggiringan opini di media sosial.
"Sejujurnya kami sangat menunggu momen ini karena di pengadilan kami akan menyampaikan semua argumen hukum yang didukung dengan bukti dan saksi terkait persoalan yang sebenarnya secara utuh sehingga hakim akan bisa melihat masalah ini dengan terang benderang," lanjutnya.
Chris juga menambahkan bahwa penyelesaian melalui lembaga negara yang kredibel akan menjauhkan kedua belah pihak dari aksi saling sindir. "Menurut kami sudah sangat tepat bila penyelesaian masalah dilakukan melalui lembaga-lembaga yang kredibel," tambah Chris.
Menutup pernyataannya, Chris menegaskan kesiapan penuh Sarwendah untuk menghadapi persidangan perdana 15 Juli 2026 mendatang. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya nasib hak asuh anak kepada putusan majelis hakim berdasarkan fakta-fakta hukum yang akan diuji nanti. "Kami sangat siap menghadapi gugatan tersebut. Dan semoga proses ini bisa berjalan lancar dan sepenuhnya kami percaya bahwa Yang Mulia Hakim bisa memberikan putusan yang terbaik berdasarkan fakta di persidangan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Akui Kekhawatirannya Terbukti Saat Bertemu Thalia dan Thania di Bandara
Ruben Onsu Angkat Bicara soal Isu Pesugihan Sarwendah, Pilih Fokus pada Hak Asuh Anak
Ruben Onsu Akui Lelah Dicap Buruk: Cari Duit Itu Enggak Gampang
Ruben Onsu Minta Hak Asuh Setahun Penuh, Curigai Anak Tak Nyaman karena Pengaruh Lingkungan