Raffi Ahmad dan Senyum yang Menenangkan Kecurigaan Publik

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:54 WIB
Raffi Ahmad dan Senyum yang Menenangkan Kecurigaan Publik

“Raffi itu bukan ditempel buat bisnis. Dia ditempel buat psikologi publik,” demikian dinyatakan. Tujuannya agar masyarakat awam yang tidak mendalami dokumen atau konflik agraria merasa aman dan menganggap segalanya sebagai bagian dari hiburan belaka.

Padahal, di saat bersamaan, kelompok usaha yang terkait, Jhonlin Group, terus disorot. Di Papua, misalnya, muncul demo dan teriakan warga mengenai tuduhan perampasan tanah adat. Namun, suara protes itu kerap tenggelam. “Karena kalah rame sama konten,” tulis analisis itu dengan nada getir.

Sebuah analogi sederhana diberikan: bayangkan keributan soal tarif parkir yang memanas, lalu tiba-tiba datang badut joget membagikan permen. Suasana langsung berubah. “Ribut lo jadi keliatan ‘ganggu suasana’.” Perhatian massa pun teralihkan.

“Itu yang Raffi lakuin. Bukan sebagai niat pribadi mungkin. Tapi sebagai fungsi sistem,” demikian ditegaskan. Poin kuncinya bukan pada niat individu, melainkan pada peran yang dijalankan dalam sebuah ekosistem yang lebih besar. “Raffi itu bukan orang jahat. Tapi dia dipake di posisi yang bikin kejahatan keliatan normal.”

Berbagai aktivitas seperti festival, pameran UMKM, atau jalan sehat yang melibatkan figur selebritas pun dilihat dalam kacamata yang sama. Di permukaan, kegiatan itu tampak baik, merakyat, dan dermawan. Namun, di baliknya, terselip fungsi lain. “Tapi sebenernya itu panggung kekuasaan.”

Pertanyaan yang kemudian menggantung adalah: sejauh mana masyarakat mampu memisahkan antara hiburan yang disajikan dengan realitas struktural yang berjalan di belakang layar? Wacana ini menantang publik untuk lebih kritis, tidak hanya mempertanyakan niat, tetapi lebih tajam lagi, mempertanyakan fungsi dan efek dari setiap pertunjukan yang ditampilkan di hadapan mereka.


Halaman:

Komentar

Tags