“Hmm, emhh.. Takut lihat muka kakak2 putih sekali,” ucap Farhan polos.
Seketika, suasana haru tadi berubah total. Tawa pecah di seluruh pengungsian. Zaskia dan rekannya, Tasyanur Medina, spontan minta maaf karena wajah mereka “terlalu putih”. Momen ringan itu bagai oase di tengah kepiluan.
“Aku dan ka @tasyanurmedina langsung minta maaf kalau kita keputihan,” tulis Zaskia dengan senyum. “Pecah tawa di pengungsian Tamiang kemarin malam. Yaa begitulah, ditengah musibah melanda, selalu ada ruang untuk tersenyum sebagai tanda syukur dan pantang menyerah.”
Di sisi lain, Zaskia juga menaruh harapan besar untuk masa depan Farhan dan kakaknya. Ia yakin, pengalaman berat itu justru akan menempa mereka menjadi pemuda yang tangguh, baik secara fisik maupun mental.
Menutup ceritanya, Zaskia menekankan satu hal: dukungan moral bagi para penyintas sama pentingnya dengan bantuan materi. Ia mengajak semua pihak untuk tak berhenti mendoakan warga Sumatra yang masih berjuang.
“Semangat terus saudara2 ku, banyak doa dan harapan dari kami semua. Insyaa Allah ku segera kembali ke lapangan. Karena bertemu kalian secara langsung, energi besar untuk diri ini,” tutupnya.
Pertemuan singkat itu, pada akhirnya, lebih dari sekadar cerita. Ia adalah potret nyata tentang ketangguhan manusia. Tentang bagaimana, di puncak musibah, semangat hidup dan sebuah senyum polos bisa muncul dari tempat yang tak terduga.
Artikel Terkait
Kasus Meninggalnya Selebgram Lula Lahfah Ditutup Polisi, Tanpa Autopsi dan Jawaban Pasti
Misteri V: Sosok Kunci di Balik Kematian Lula Lahfah yang Tak Kunjung Hadir
Kenan Yildiz: Dari Bayern ke Juventus, Kisah Pemuda yang Pilih Turki dan Bikin Jerman Menyesal
Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah Dikirim oleh ART