Kolaborasi yang Terlupakan: Impian Epy Kusnandar untuk Satu Panggung Bersama Anak

- Kamis, 04 Desember 2025 | 15:20 WIB
Kolaborasi yang Terlupakan: Impian Epy Kusnandar untuk Satu Panggung Bersama Anak

Impian yang Tak Sempat: Epy Kusnandar dan Hasratnya untuk Berkarya Bersama Anak

Damar Rizal Marzuki, anak pertama dari mendiang Epy Kusnandar, baru-baru ini membuka suara. Ia mengungkap sebuah keinginan mendalam sang ayah yang sayangnya tak sempat diwujudkan. Impian itu sederhana, tapi penuh makna: Epy ingin sekali membuat sebuah karya bersama anaknya itu.

“Sempat selalu mau bikin program bareng atau bikin karya bareng di panggung atau di film, sinetron,” kenang Damar saat ditemui di TPU Jeruk Purut, Jakarta, Kamis (4/12) lalu.

Menurutnya, keinginan itu sempat terwujud secara tak langsung. Mereka pernah disatukan dalam satu judul sinetron. Tapi, itu belum cukup. Ada hasrat untuk kolaborasi yang lebih khusus, yang direncanakan berdua, yang akhirnya tertunda selamanya.

Hubungan mereka, rupanya, justru semakin dekat berkat dunia hiburan. Epy dikenal sebagai pribadi yang pendiam dalam keseharian. Damar pun mengaku tak banyak bicara. Jarak fisik juga jadi penghalang. Damar menghabiskan masa kecil dan remajanya di Garut hingga lulus SMA.

“Kalau hari-hari itu jarang ngobrol karena Papa diam, saya juga nggak terlalu banyak omong dan nanya,” tuturnya.

“Jadi pas di sinetron itu justru momen obrolan terpanjang saya sama Papa. Papa lebih suka nulis, fokus dengan apa yang ditekuni.”

Namun begitu, benang merah seni akhirnya mempertemukan mereka. Saat liburan sekolah, Damar kerap diajak Epy ke kampus sang ayah dulu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dari situlah ketertarikannya tumbuh. Tak heran, setelah lulus SMA, Damar memutuskan untuk melanjutkan studi di IKJ, mengambil jurusan teater, mengikuti jejak ayahnya.

“Mulai di situ lah diperkenalkan seni… Di situ mulai pengen dekat terus,” lanjut Damar tentang proses pendekatan mereka.

Sayangnya, waktu tak berpihak. Damar sama sekali tak menyangka sang ayah akan pergi begitu cepat. Di rumah sakit, harapan masih menggelora. Ia terus berdoa agar kondisi Epy membaik.

“Waktu di rumah sakit masih berharap sembuh,” ujarnya.

Tapi takdir berkata lain. Kondisi Epy terus merosot setelah organ vitalnya gagal berfungsi dan terjadi penyumbatan di pembuluh darah batang otak. Kenyataan pahit itu pun harus diterima. Saat memandikan jenazah ayahnya, Damar masih seperti tak percaya.

“Nggak nyangka juga sampai kemarin di rumah sakit dinyatakan telah tiada. Waktu mandiin almarhum Papa ini beneran nggak sih,” ungkapnya dengan nada pilu.

Kini, yang tersisa adalah kenangan dan satu impian yang tertunda. Kolaborasi yang diidam-idamkan Epy Kusnandar bersama anak pertamanya itu, selamanya akan menjadi cerita yang tak terselesaikan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar