Deniar Hendarsyah, adik Epy, mencoba menjelaskan betapa fatalnya kondisi tersebut.
"Penyumbatan pembuluh darah di batang otak. Katanya ukurannya cuma segini," ujar Deniar sambil memberi isyarat dengan jarinya.
"Batang otak itu sendiri kecil. Yang tersumbat cuma satu, tapi itu pusat kontrol kehidupan. Gerak, napas, semuanya."
Akibatnya, Epy mengalami semi-koma dengan tekanan darah yang melonjak tinggi dan tak kunjung turun. Situasi ini membuat tim medis tak bisa melakukan intervensi operasi. Semua upaya sudah dilakukan. Mulai dari pemberian oksigen hingga obat-obatan khusus untuk meningkatkan kesadarannya. Sayangnya, kondisi Epy justru terus merosot.
Deniar menuturkan detik-detik penghabisan. Ruangan rumah sakit dipenuhi sanak keluarga yang berusaha memberi semangat.
"Kami bertahan berjam-jam, bahkan beberapa menit terakhir rasanya sangat panjang. Sampai akhirnya, di pukul 14.24, detak jantungnya berhenti. Napasnya pun tak terdengar lagi," kenangnya.
Kini, segala kenangan telah berpulang bersama almarhum. Tinggal duka yang harus dijalani oleh Karina, kedua putra mereka, Tegar, dan seluruh keluarga besar.
Artikel Terkait
Aurelie Moeremans Buka Luka Masa Lalu, Luncurkan Buku untuk Lawan Child Grooming
Boiyen Diduga Sudah Tahu Skandal Penipuan Suami Sejak Lama
Doktif Buka Pintu Damai untuk Richard Lee, Asal Uang Ratusan Miliar Dikembalikan
Jaket Robek dan Jasad Misterius Guncang Alur Mencintai Ipar Sendiri