Alasan Mistis Tari Bedhaya Ketawang Tidak Ditampilkan di Jumenengan PB XIV

- Sabtu, 15 November 2025 | 17:00 WIB
Alasan Mistis Tari Bedhaya Ketawang Tidak Ditampilkan di Jumenengan PB XIV
Bedhaya Ketawang: Tarian Sakral yang Tak Ditampilkan di Jumenengan PB XIV

Mengapa Tari Bedhaya Ketawang Tidak Ditampilkan di Jumenengan Pakubuwono XIV?

Upacara Jumenengan atau penobatan Pakubuwono XIV di Keraton Kasunanan Surakarta berlangsung tanpa kehadiran Tari Bedhaya Ketawang, sebuah tarian yang biasanya menjadi puncak prosesi sakral. Keputusan untuk tidak menampilkan tarian ini menyoroti kembali kedalaman makna filosofis dan statusnya yang mistis dalam budaya Jawa.

Sejarah dan Asal Usul Tari Bedhaya Ketawang

Sejarah Tari Bedhaya Ketawang dipercaya bermula dari masa pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram antara tahun 1613 hingga 1645. Suatu ketika, sang Sultan sedang bertapa dan secara tiba-tiba mendengar suara melodi yang sangat merdu seolah datang dari langit. Pengalaman spiritual ini menginspirasinya untuk menciptakan sebuah tarian yang kemudian dinamai Bedhaya Ketawang.

Versi lain dari legenda populer menghubungkan tarian ini dengan pertemuan spiritual antara Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram, dengan Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Pantai Selatan. Kisah percintaan mereka menjadi inti narasi dari tarian ini. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi wilayah Mataram, Tari Bedhaya Ketawang menjadi warisan budaya yang diserahkan kepada Kasunanan Surakarta, di mana ia terus dilestarikan sebagai tarian untuk upacara penobatan raja.

Makna Filosofis dan Simbolisme yang Mendalam

Makna utama Tari Bedhaya Ketawang adalah sebagai perlambang hubungan spiritual dan ikatan perkawinan antara Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul. Setiap gerakan dalam tarian ini menceritakan kisah pertemuan mereka, sementara lirik tembang pengiringnya menggambarkan curahan hati sang Ratu kepada sang Raja.

Sebuah keyakinan kuat menyatakan bahwa setiap kali tarian ini dipentaskan, Kanjeng Ratu Kidul hadir secara gaib untuk menari bersama. Tarian ini biasanya ditarikan oleh sembilan penari wanita, dan dalam kepercayaan Jawa, sang Ratu hadir sebagai penari kesepuluh yang tidak terlihat, menyempurnakan pertunjukan tersebut.

Syarat dan Tata Cara Pementasan yang Sakral

Sebagai tarian yang sangat sakral, pementasan Bedhaya Ketawang dikelilingi oleh sejumlah aturan ketat. Syarat utama adalah semua penari harus berstatus gadis yang masih suci dan tidak sedang dalam masa menstruasi. Jika ada penari yang haid, mereka diwajibkan untuk memohon izin khusus kepada Kanjeng Ratu Kidul melalui ritual Caos Dhahar di Panggung Sanga Buwana, yang biasanya disertai dengan puasa selama beberapa hari sebelum pementasan.

Iringan musik untuk tarian ini adalah Gending Ketawang Gedhe dengan laras pelog, dimainkan oleh alat musik seperti kethuk, kenong, gong, kendhang, dan kemanak. Struktur tariannya terbagi menjadi tiga bagian, dengan iringan musik yang sempat beralih ke laras slendro sebanyak dua kali sebelum kembali ke pelog. Busana yang dikenakan para penari adalah dodot ageng atau busana basahan, yaitu pakaian pengantin adat Jawa, dengan sanggul berukuran besar yang dikenal sebagai gelung boor mengkurep.

Alasan Tidak Ditampilkannya Tarian dalam Jumenengan PB XIV

Pada upacara penobatan Pakubuwono XIV yang digelar pada tahun 2025, Tari Bedhaya Ketawang secara mencolok tidak ditampilkan. Penjelasan resmi dari keraton menyatakan bahwa hal ini dikarenakan Keraton Surakarta masih berada dalam masa berkabung atas wafatnya Pakubuwono XIII. GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, putri sulung almarhum PB XIII, menegaskan bahwa tarian ini memerlukan ritual dan seremonial khusus yang tidak sesuai dilaksanakan dalam suasana duka. Keputusan ini semakin mengukuhkan status Bedhaya Ketawang bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah ritual sakral yang menghormati tata nilai dan waktu.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar