Keutamaan Puasa Dzulqa’dah di Hari Senin, Niat Gabung Dua Ibadah Sunah Sekaligus

- Senin, 27 April 2026 | 03:50 WIB
Keutamaan Puasa Dzulqa’dah di Hari Senin, Niat Gabung Dua Ibadah Sunah Sekaligus

JAKARTA Dzulqa’dah sudah masuk. Bulan yang satu ini termasuk yang istimewa dalam kalender Islam. Umat Islam dianjurkan buat memperbanyak amal saleh di dalamnya. Salah satu ibadah sunah yang sering dianjurkan? Puasa Dzulqa’dah. Apalagi kalau digabung sama puasa Senin Kamis. Katanya, pahalanya bisa berlipat ganda.

Bulan haram itu, menurut ajaran, adalah bulan-bulan yang dimuliakan Allah. Kehormatannya diagungkan. Dzulqa’dah termasuk salah satunya. Ini ditegaskan dalam hadis sahih. Bunyinya kurang lebih begini: “Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 3197 & Muslim 4477).

Nah, soal puasa Dzulqa’dah ini, nggak ada aturan baku berapa hari. Mau satu hari, dua hari, atau bahkan dua puluh hari, semua boleh. Tapi jangan sampai 30 hari seperti Ramadhan, ya. Soalnya ini cuma puasa sunah. Bukan wajib.

Sekarang, Dzulqa’dah sudah masuk hari ke-9. Kebetulan hari ini juga Senin. Hari yang memang dianjurkan buat puasa sunah. Jadi, ini momen yang pas banget buat menggabungkan niat puasa Dzulqa’dah dan puasa Senin. Dua pahala dalam satu waktu.

Menurut buku Yang Harus Diketahui dari Puasa Syawal karya Ahmad Zarkasih, Imam Ar Ramli salah satu ulama Syafiiyah pernah berfatwa soal ini. Katanya, orang yang berpuasa lalu menggabungkan niat antara qadha dan sunah, atau sunah dengan sunah lainnya, bakal mendapatkan dua pahala sekaligus. Sayyid Bakri dalam I‘anatut Thalibin juga bilang, orang yang berpuasa di hari-hari yang sangat dianjurkan akan tetap mendapat keutamaan puasa sunah, meskipun niatnya qadha atau nazar.

Buat yang mau coba, ini niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ذُو ٱلْقَعْدَة وَعَنْ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu Shouma Ghadin 'An adaai sunnati Dzulqa'dah wa 'an shouma yaumal itsnaini lillahi Ta'alaa

Artinya: “Saya niat puasa sunah Dzulqa’dah esok hari dan puasa hari Senin karena Allah Ta’ala.”

Di bulan Dzulqa’dah ini, puasa sunah tujuh hari juga dianjurkan. Bisa di awal, tengah, atau akhir bulan. Soalnya bulan ini termasuk satu dari empat bulan mulia. Puasa di sini punya nilai lebih dibanding bulan lain. Imam As-Syarwani pernah bilang: “Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan yang paling utama dari keempatnya adalah Muharam, Rajab, Dzulhijjah, kemudian Dzulqa’dah.”

Dalam hadis lain, disebutkan juga soal kesunahan puasa ini. Bunyinya kurang lebih: “…dan berpuasalah dari bulan haram, tinggalkanlah dari bulan haram, berpuasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah darinya.” Nabi berisyarat dengan ketiga jarinya, dikumpulkan lalu dilepaskan. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Itulah sekilas soal niat puasa Dzulqa’dah sekaligus puasa Senin Kamis. Semoga bermanfaat buat yang ingin menjalankannya.

Wallahu A’lam.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar